Feeds:
Pos
Komentar

Dosis adalah ta…

Dosis adalah takaran atau jumlah, dosis obat adalah takaran obat yang bila dikelompokkan bisa dibagi :
Dosis Terapi (Therapeutical Dose), yaitu dosis obat yang dapat digunakan untuk terapi atau pengobatan untuk penyembuhan penyakit.
Dosis Maksimum (Maximalis Dose), yaitu dosis maksimal obat atau batas jumlah obat maksimum yang masih dapat digunakan untuk penyembuhan. Dalam buku buku standar seperti Farmakope atau Ekstra Farmakope Dosis Maksimum (DM) tercantum diperuntukkan orang dewasa.
Dosis Lethalis (Lethal Dose), yaitu dosis atau jumlah obat yang dapat mematikan bila dikonsumsi. Bila mencapai dosis ini orang yang mengkonsumsi akan over dosis (OD)
Cara Menghitung Dosis Maksimum Obat Dalam Resepa. DM tercantum berlaku untuk orang dewasa, bila resep mengandung obat yang ber-DM, tanyakan umurnya.
b. Bila ada zat yang bekerja searah, harus dihitung DM searah (dosis ganda)
c. Urutan melihat daftar DM berdasarkan Farmakope Indonesia edisi terakhir (FI. Ed.III, Ekstra Farmakope, FI. Ed.I, Pharm. Internasional, Ph. Ned. Ed. V, CMN dan lain-lain).
d. Setelah diketahui umur pasien, kalau dewasa langsung dihitung, yaitu untuk sekali minum : jumlah dalam satu takaran dibagi dosis sekali dikali 100%.
Begitu juga untuk sehari minum : jumlah sehari dibagi dosis sehari dikali 100%.
e. Dosis Maksimum (DM) searah : dihitung untuk sekali dan sehari.
f. Cara menghitung Dosis Maksimum (DM) untuk oral berdasarkan :
i). Rumus Young
Untuk umur 1-8 tahun dengan rumus :
(n/n + 12) x DM (dewasa) n = umur dalam tahun

ii). Rumus Dilling
Untuk umur di atas 8 tahun dengan rumus :
(n/20) x DM n = umur dalam tahun

iii). Rumus Fried
(n/150) x DM n = umur bayi dalam bulan

iv). Bila dalam berat badan

Rumus Clark
(Berat badan dalam kilogram) / 70 kg x DM (dewasa)

MODEL KEPERAWATAN MENURUT HILDEGARD PEPLAU

Teori Peplau

Model konsep dan teori keperawatan yang dijelaskan oleh Peplau menjelaskan tentang kemampuan dalam memahami diri sendiri dan orang lain yang menggunakan dasar hubungan antar manusia yang mencakup 4 komponen sentral yaitu klien, perawat, masalah kecemasan yang terjadi akibat sakit (sumber kesulitan), dan proses interpersonal.

Klien.

Sistem dari yang berkembang terdiri dari karakteristik biokimia, fisiologis, interpersonal dan kebutuhan serta selalu berupaya memenuhi kebutuhannya dan mengintegrasikan belajar pengalaman. Klien adalah subjek yang langsung dipengaruhi. .Oleh adanya proses interpersonal.

Perawat

Perawat berperan mengatur tujuan dan proses interaksi interpersonal dengan pasien yang bersifat partisipatif, sedangkan pasien mengendalikan isi yang menjadi tujuan. Hal ini berarti dalam hubungannya dengan pasien, perawat berperan sebagai mitra kerja, pendidik, narasumber, pengasuh pengganti, pemimpin dan konselor sesuai dengan fase proses interpersonal.

Pendidikan atau pematangan tujuan yang dimaksud untuk meningkatkan gerakan yang progresif dan kepribadian seseorang dalam berkreasi, membangun, menghasilkan pribadi dan cara hidup bermasyarakat.

Perawat mempunyai 6 peran sebagai berikut :

  1. Mitra kerja, berbagi rasa hormat dan minat yang positif pada pasien. Perawat menghadapi klien seperti tamu yang dikenalkan pada situasi baru. Sebagai mitra kerja, Hubungan P-K merupakan hubungan yang memerlukan kerha sama yang harmonis atas dasar kemitraan sehingga perlu dibina rasa saling percaya, saling mengasihi dan menghargai.
  2. Nara sumber (resources person) memberikan jawaban yang spesifik terhadap pertanyaan tentang masalah yang lebih luas dan selanjutnya mengarah pada area permasalahan yang memerlukan bantuan. perawat mampu memberikan informasi yang akurat, jelas dan rasional kepada klien dalam suasana bersahabat dan akrab.
  3. Pendidik (teacher) merupakan kombinasi dari semua peran yang lain. Perawat harus berupaya memberikan pendidikan, pelatihan, dan bimbingan pada klien/keluarga terutama dalam megatasi masalah kesehatan.
  4. Kepemimpinan (leadership) mengembangkan hubungan yang demokratis sehingga merangsang individu untuk berperan. Perawat harus mampu memimpin klien/keluarga untuk memecahkan masalah kesehatan melalui proses kerja sama dan partisipasi aktif klien.
  5. Perngasuh pengganti (surrogate) membantu individu belajar tentang keunikan tiap manusia sehingga dapat mengatasi konflik interpersonal. Perawat merupakan individu yang dipercaya klien untuk berperan sebagai orang tua, tokoh masyarakat atau rohaniawan guna membantu memenuhi kebutuhannya.
  6. Konselor (consellor) meninhgkatkan pengalaman individu menuju keadaan sehat yaitu kehidupan yang kreatif, konstruktif dan produktif. Perawat harus dapat memberikan bimbingan terhadap masalah klien sehingga pemecahan masalah akan mudah dilakukan.

Sumber kesulitan

Ansietas berat yang disebabkan oleh kesulitan mengintegrasikan pengalaman interpersonal yang lalu dengan yang sekarang ansietas terjadi apabila komunikasi dengan orang lain mengancam keamanan psikologi dan biologi individu. Dalam model peplau ansietas merupakan konsep yang berperan penting karena berkaitan langsung dengan kondisi sakit. Dalam keadaan sakit biasanya tingkat ansietas meningkat. Oleh karena itu perawat pada saat ini harus mengkaji tingkat ansietas klien. Berkurangnya ansietas menunjukkan bahwa kondisi klien semakin membaik.

Proses Interpersonal

Dalam ilmu komunikasi, proses interpersonal didefinisikan sebagai proses interaksi secara simultan dengan orang lain dan saling pengaruh-mempengaruhi satu dengan lainnya, biasanya dengan tujuan untuk membina suatu hubungan. Berkaitan dengan hal tersebut, maka proses interpersonal yang dimaksud antara perawat dan klien ini menggambarkan metode transpormasi energi atau ansietas klien oleh perawat yang terdiri dari 4 fase yaitu :

1.Fase orientasi
Lebih difokuskan untuk membantu pasien menyadari ketersediaan bantuan dan rasa percaya terhadap kemampuan perawat untuk berperan serta secara efektif dalam pemberian askep pada klien. Tahap ini ditandai dimana perawat melakukan kontrak awal untuk membangun kepercayaan dan terjadi pengumpulan data.

2. Fase identifikasi
Terjadi ketika perawat memfasilitasi ekspresi perilaku pasien dan memberikan asuhan keperawatan yang tanpa penolakan diri perawat memungkinkan pengalaman menderita sakit sebagai suatu kesempatan untuk mengorientasi kembali perasaan dan menguatkan bagian yang positif dan kepribadian pasien. Respon pasien pada fase identifikasi dapat berupa :

1.Partisipan mandiri dalam hubungannya dengan perawat.
2. Individu mandiri terpisah dari perawat.
3. Individu yang tak berdaya dan sangat tergantung pada perawat.

3. Fase eksplorasi
Memungkinkan suatu situasi dimana pasien dapat merasakan nilai hubungan sesuai pandangan/persepsinya terhadap situasi. Fase ini merupakan inti hubungan dalam proses interpersonal. Dalam fase ini perawat membantu klien dalam memberikan gambaran kondisi klien dan seluruh aspek yang terlibat didalamnya.

4. Fase resolusi
Secara bertahap pasien melepaskan diri dari perawat. Resolusi ini memungkinkan penguatan kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan menyalurkan energi kea rah realisasi potensi.

Keempat fase tersebut merupakan rangkaian proses pengembangan dimana perawat membimbing pasien dari rasa ketergantungan yang tinggi menjadi interaksi yang saling tergantung dalam lingkungan sosial. Artinya seorang perawat berusaha mendorong kemandirian pasien.

Pemaparan ini menunjukkan bahwa teori Hildegard E. Peplau(1952) berfokus pada individu, perawat dan proses interaktif yang menghasilkan hubungan antara perawat dan klien. Berdasarkan teori ini klien adalah individu dengan kebutuhan perasaan, dan keperawatan adalah proses interpersonal dan terapeutik. Artinya suatu hasil proses kerja sama manusia dengan manusia lainnya supaya menjadi sehat atau tetap sehat (hubungan antar manusia). Tujuan keperawatan adalah untuk mendidik klien dan keluarga dan untuk membantu klien mencapai kematangan perkembangan kepribadian. Oleh sebab itu, perawat berupaya mengembangkan hubungan perawat dan klien melalui peran yang diembannya (nara sumber, konselor, dan wali).

Adapun kerangka kerja praktik dari teori Peplau memaparkan bahwa keperawatan adalah proses yang penting, terapeutik, dan interpersonal. Keperawatan berpartisipasi dalam menyusun struktur system asuhan kesehatan untuk menfasilitasi kondisi yang alami dari kecenderungan manusia untuk mengembangkan hubungan interpersonal.

Implementasi Teori Peplau

Pada awalnya, Peplau mengembangkan teorinya sebagai bentuk keprihatinannya terhadap praktik keperawatan “Custodial Care”, sehingga sebagai perawat jiwa, melalui tulisannya ia kemudian mempublikasikan teorinya mengenai hubungan interpersonal dalam keperawatan. Dimana dalam memberikan asuhan keperawatan ditekankan pada perawatan yang bersifat terapeutik.

Aplikasi yang dapat kita lihat secara nyata yaitu pada saat klien mencari bantuan, pertama perawat mendiskusikan masalah dan menjelaskan jenis pelayanan yang tersedia. Dengan berkembangnya hubungan antara perawat dan klien bersama-sama mendefinisikan masalah dan kemungkinan penyelesaian masalahnya. Dari hubungan ini klien mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan pelayanan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhannya dan perawat membantu klien dalam hal menurunkan kecemasan yang berhubungan dengan masalah kesehatannya.

Teori peplau merupakan teori yang unik dimana hubungan kolaborasi perawat klien membentuk suatu “kekuatan mendewasakan” melalui hubugan interpersonal yang efektif dalam membantu pemenuhan kebutuhan klien. Ketika kebutuhan dasar telah diatasi, kebutuhan yang baru mungkin muncul. Hubungan interpesonal perawat klien digambarkan sebagai fase-fase yang saling tumpang tindih seperti berikut ini orientasi, identifikasi, penjelasan dan resolusi.

Teori dan gagasan Peplau dikembangkan untuk memberikan bentuk praktik keperawatan jiwa. Penelitian keperawatan tentang kecemasan, empati, instrument perilaku, dan instrument untuk mengevaluasi respon verbal dihasilkan dari model konseptual Peplau.

Kesimpulan

Teori Hildegard Peplau (1952) berfokus pada individu, perawat, dan proses interaktif (Peplau, 1952) yang menghasilkan hubungan antara perawat dan klien (Torres, 1986). Berdasarkan teori ini klien adalah individu dengan kebutuhan perasaan, dan keperawatan adalah proses interpersonal dan terapeutik. Tujun keperawatan adalah untuk mendidik klien dan keluarga dan unutuk membantu klien mencapai kemantapan pengembangan kepribadian (Chinn dan Jacobs, 1995). Teori dan gagasan Peplau dikembangkan untuk memberikan bentuk praktik keperawatan jiwa. Oleh sebab itu perawat berupaya mengembangkan hubungan antara perawat dank lien dimana perawat bertugas sebagai nara sumber, konselor, dan wali.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat. (2004). Pengantar Konsep dasar Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta

Potter & Perry. (2005). Buku ajar Fundamental keperawatan. Volume 1. EGC. Jakarta.

Sills. (2007). Hildegard Peplau 1909-1999

 

 

BAB  II

TINJAUAN TEORITIS

 

  1. A.      KONSEP DASAR PENYAKIT

 

  1. DEFINISI

Bronchiolitis adalah suatu peradangan pada bronchiolus yang disebabkan oleh Virus. ( suriadi & Rita, 2006: 135 )

Bronchiolitis adalah penyakit obstruktif akibat inflamasi akut pada saluran nafas kecil (bronkiolus), terjadi pada anak berusia kurang dari 2 tahun dengan insidens tertinggi sekitar usia 6 bulan. ( Mansjoer, arif, 2000: 468 )

Bronchiolitis adalah suatu inflamasi infeksi virus pada bronkiolus, yang menyebabkan obstruktif akut jalan nafas dan penurunan pertukaran gas dalam alveoli. ( CPD_ContinuingProfessionalDevelopmentDokterIndonesia, diunduh: Kamis, 29 Juli 2010 )

2.      ETIOLOGI

Bronkiolitis terutama disebabkan oleh Respiratory Syncitial Virus (RSV), 60–90% dari kasus, dan sisanya disebabkan oleh virus Parainfluenzae tipe 1,2, dan 3, Influenzae B, Adenovirus tipe 1,2, dan 5, atau Mycoplasma. RSV adalah penyebab utama bronkiolitis dan merupakan satu-satunya penyebab yang dapat menimbulkan epidemi. Hayden dkk (2004) mendapatkan bahwa infeksi RSV menyebabkan bronkiolitis sebanyak 45%-90% dan menyebabkan pneumonia sebanyak 40%. ( Mansjoer, Arif. 2000 :468 ).

  1. P ATOFISIOLOGI

 

Infeksi pernafasan atas oleh Respiratory Synctial Virus ( RSV )

 

Edema secret atau lender, debris seluller menghambat bronkiolus

 

Bronkiolus konstriksi selama ekspirasi, dan menyebabkan hyperinflasi pada paru

 

Terjadi atelektasis karena obstruksi komplit dan udara tidak teraborbsi

 

Pertukaran gas terganggu atau abnormal

 

Hypoxemia

 

Terjadi asidosis metabolic dan alkalosis respiratorik ringan

 

 

 

Keterangan:

Bronkiolitis adalah suatu peradangan yang terjadi dengan adanya edema atau pembengkakan pada mukosa, akumulasi secret atau lendir dan debris seluler yang menyebabkan obstruksi sehingga terjadi penyempitan lumen pada bronkiolus,

Dengan adanya obstruksi akan meningkatkan resistensi pada jalan nafas selama inspirasi dan ekspirasi.

Terjadinya hyperinflasi pada paru merupakan akibat dari udara yang tidak terabsorbsi oleh karena terjadi konstriksi pada bronkiolus selama ekspirasi. Dengan mekanisme terjadinya konstriksi dimana udara tidak dapat diabsorbsi maka akan terjadinya atelektasis. ( Mansjoer,arif. 2000: 35).

4.      MANIFESTASI KLINIS

Mula-mula bayi menderita gejala ISPA atas ringan berupa pilek yang encer dan bersin. Gejala ini berlangsung beberapa hari, kadang-kadang disertai demam dan nafsu makan berkurang. Kemudian timbul distres nafas yang ditandai oleh batuk paroksismal, wheezing, sesak napas. Bayi-bayi akan menjadi rewel, muntah serta sulit makan dan minum. Bronkiolitis biasanya terjadi setelah kontak dengan orang dewasa atau anak besar yang menderita infeksi saluran nafas atas yang ringan. Bayi mengalami demam ringan atau tidak demam sama sekali dan bahkan ada yang mengalami hipotermi. (breathebetter.blogspot.com, diunduh: kamis, 29 Juli 2010 )

Terjadi distres nafas dengan frekuensi nafas lebih dari 60 kali per menit, kadang-kadang disertai sianosis, nadi juga biasanya meningkat. Terdapat nafas cuping hidung, penggunaan otot bantu pernafasan dan retraksi. Retraksi biasanya tidak dalam karena adanya hiperinflasi paru (terperangkapnya udara dalam paru). Terdapat ekspirasi yang memanjang , wheezing yang dapat terdengar dengan ataupun tanpa stetoskop, serta terdapat crackles. Hepar dan lien teraba akibat pendorongan diafragma karena tertekan oleh paru yang hiperinflasi. Sering terjadi hipoksia dengan saturasi oksigen <92% pada udara kamar. Pada beberapa pasien dengan bronkiolitis didapatkan konjungtivitis ringan, otitis media serta faringitis. Ada bentuk kronis bronkiolitis, biasanya disebabkan oleh karena adenovirus atau inhalasi zat toksis (hydrochloric, nitric acids ,sulfur dioxide). ( Mansjoer,arif. 2000: 468 ).

  1. PEMERIKSAAN PENUNJANG
  1. Tes laboratorium rutin tidak spesifik. Hitung lekosit biasanya normal. Pada pasien dengan peningkatan lekosit biasanya didominasi oleh PMN dan bentuk batang. Gambaran radiologik mungkin masih normal bila bronkiolitis ringan. Umumnya terlihat paru-paru mengembang (hyperaerated). Bisa juga didapatkan bercak-bercak yang tersebar, mungkin atelektasis (patchy atelectasis ) atau pneumonia (patchy infiltrates). (pharmachology2000, diunduh: kamis 29 juli 2010).
  2. Pada x-foto lateral, didapatkan diameter AP yang bertambah dan diafragma tertekan ke bawah. Pada pemeriksaan x-foto dada, dikatakan hyperaerated apabila kita mendapatkan: siluet jantung yang menyempit, jantung terangkat, diafragma lebih rendah dan mendatar, diameter anteroposterior dada bertambah, ruang retrosternal lebih lusen, iga horisontal, pembuluh darah paru tampak tersebar. Bayi-bayi dengan bronkiolitis mengalami wheezing untuk pertama kalinya, berbeda dengan asma yang mengalami wheezing berulang. (Mansjoer,arif.2000 :468)
  3. Untuk menentukan penyebab bronkiolitis, dibutuhkan pemeriksaan aspirasi atau bilasan nasofaring. Pada bahan ini dapat dilakukan kultur virus tetapi memerlukan waktu yang lama, dan hanya memberikan hasil positif pada 50% kasus. Ada cara lain yaitu dengan melakukan pemeriksaan antigen RSV dengan menggunakan cara imunofluoresen atau ELISA. Sensitifitas pemeriksaan ini adalah 80-90%. (pharmachology2000, diunduh: kamis 29 juli 2010).
  4. Analisis gas darah ; hiperkarbia sebagai tanda trapping, asidosis metabolic, atau asidosis respiratorik. (Mansjoer,arif. 2000 :468).
    1. Medik
  1. PENATALAKSANAAN

1)   Pemberian oksigen dengan humidifikasi atau terapi aerosol; Ribavirin, Terbutalin Albuterol, dan Aminophillin.

2)   Terapi cairan oral ( seperti; pedialyte ) dan parenteral

3)   Antibiotik bila sekunder dari infeksi bakteri.

(breathebetter.blogspot.com, diunduh: kamis, 29 Juli 2010 )

  1. Keperawatan

1)   Kaji tanda- tanda distress pernafasan ( nafas cepat, dyspnea, tarikan dada, cuping hidung, cyanosis)

2)   Kaji suara atau bunyi nafas

3)   Monitor apnea selama fase akut

4)   Kaji saturasi oksigen melalui pulse oximetry

5)   Kaji tanda- tanda dehidrasi ( turgor kulit, membrane mukosa, intake cairan, cekung ubun- ubun dan berat badan menurun ).

6)   Kaji adanya batuk tidak efektif

7)    Kaji system kardiovaskuler, bradikardi, dan hypotensi, nadi cepat dan lemah.

8)    Kaji status neurologi: tingkat kesadaran dan tidak ada reflex.

(Suriadi & Rita. 2006 : 35)

7.      KOMPLIKASI

Komplikasi dari bronchiolitis adalah :

  1. Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau kolaps paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang.
    1. Hipoksia yaitu kondisi sindrom kekurangan oksigen pada jaringan tubuh.
    2. Gangguan Asam Basa ( asidosis metabolic, alkalosis respiratorik, dan asidosis respiratorik ). ( Suriadi & Rita. 2006:35 )
  2. B.      KONSEP TUMBUH KEMBANG BAYI USIA  3-9 BULAN
    1. 1.      Pertumbuhan (growth)

Proses bertambahnya ukuran akibat bertambah banyanya sel- sel dan atau bertambah besarnya sel- sel serta bertambahnya jaringan interseluler.

(Wong L. Donna. 2000)

  1. 2.      Perkembangan (development)

Bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan.

  1. 3.      Faktor Penentu Tumbuh Kembang
    1. Faktor Keturunan
    2. Faktor Lingkungan

Suasana dimana anak berada, lingkunan berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak

1)      Lingkungan Pranatal (masih dalam kandungan)

Faktor- factor yang mempengaruhi lingkungan prenatal:

a)      Imunisasi

b)      Stress

c)      Gizi Ibu hamil

d)     Radiasi

e)      Hormon

2)      Lingkungan Post Natal

Faktor- factor yang mempengaruhi lingkungan post natal

a)      Lingkungan biologis

1)      Suku bangsa/ Ras

2)      Jenis Kelamin

3)      Umur

4)      Gizi

5)      Perawatan terhadap penyakit

6)      Penyakit Kronis kesehatan

7)      Kepekaan

8)      Fungsi metabolisme

 

b)   Faktor Fisik

1)      Cuaca/ Musim

2)      Sanitasi

3)      Keadaan rumah

 

c)   Faktor Psikososial

1)      Stimulasi

2)      Motivasi belajar

3)      Hukuman

4)      Stress

5)      Sekolah

6)      Cinta dan kasih sayang

 

d)         Faktor Keluarga

1)      Pekerjaan

2)      Pendidikan

3)      Adat Istiadat

4)      Jumlah Saudara

5)      Jenis Kelamin

6)      Stabilitas Rumah tangga

  1. 4.      Kebutuhan Dasar Anak

Kebutuhan dasar anak meliputi:

  1. Kebutuhan Fisik (asuh)

1)      Pangan

2)      Perawatan Kesehatan

3)      Papan

4)      Higiene Sanitasi

5)      Sandang

6)      Kesegaran Jasmani, rekreasi

(Wong L. Donna.2000)

b.    Kebutuhan kasih sayang (Asih)

1)      Kehadiran ibu/ Pengganti ibu menjalin rasa aman

2)      Kontak fisik/ Kulit/ mata dan psikis sedini mungkin

3)      Meliputi Agama, Moral, Etika, Kecerdasan, Kreatifitas, Ketrampilan.

      (Wong L. Donna.2000)

 

  1. 5.      Konsep Tumbuh kembang bayi dari usia  3  sampai  9  bulan adalah:

 

a. Motorik kasar

1)          Keseimbangan kepala pada posisi duduk baik

2)          Punggung sedikit melengkung, lengkung hanya di daerah lumbal

3)  Mampu duduk tegak bila disangga

4)  Berguling dari telungkup ke sisi lain

b.  Motorik Halus

1)      Melihat dan memainkan tangan

2)      Menarik pakaian dan selimut ke atas wajah untuk bermain

3)      Mencoba meraih objek dengan tangan tapi melampaui

4)      Menggenggam objek dengan kedua tangan

5)      Dapat memasukkan objek ke mulut

c.   Sensori

1)      Mampu mengakomodasi objek yang dekat

2)      Penglihatan binokuler cukup baik terbentuk

3)      Dapat memfokuskan pada blok yang berada pada jarak 1,25 m.

C.      KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Pengkajian

a.    Riwayat kesehatan

1)      Adanya riwayat infeksi saluran pernapasan sebelumnya : batuk, pilek, demam.

2)      Anorexia, sukar menelan, mual dan muntah.

3)      Riwayat penyakit yang berhubungan dengan imunitas seperti malnutrisi.

4)      Anggota keluarga lain yang mengalami sakit saluran pernapasan.

5)      Batuk produktif, pernafasan cuping hidung, pernapasan cepat dan dangkal, gelisah, sianosis.

 

b.      Pemeriksaan fisik

1)      Demam, takipnea, sianosis, pernapasan cuping hidung

2)      Auskultasi paru ronchi basah

3)      Laboratorium leukositosis, LED meningkat atau normal

4)      Rontgent dada abnormal (bercak, konsolidasi yang tersebar pada kedua paru)

c.       Factor fsikologis / perkembangan

Usia tingkat perkembangan

 

1)      Toleransi / kemampuan memahami tindakan

2)      Koping

3)      Pengalaman terpisah dari keluarga / orang tua

4)      Pengalaman infeksi saluran pernafasan sebelumnya

d.      Pengetahuan keluarga / orang tua

1)      Tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit saluran pernapasan

2)      Pengalaman keluarga tentang penyakit saluran pernafasan

3)      Kesiapan / kemauan keluarga untuk belajar merawat anaknya

 

2.      Diagnosa keperawatan
a.   Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan edema dan meningkatnya produksi lender atau secret.

( Suriadi & Rita. 2006:35 )

b.  Tidak efektifnya bersihan jalan napas berhubungan dengan obstruksi mekanis, inflamasi, peningkatan sekresi, ketidaknyamanan, kerusakan persepsi dan kognitif, nyeri.
c.   Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya organisme infektif.

(Wong. L. Donna.2003;463)

d.  Peningkatan  suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi

(Suriadi & Rita. 2006; 35)

e.   Fatigue berhubungan dengan distress pernafasan.

(Suriadi & Rita. 2006; 35)

f.   Kecemasan keluarga berhubungan dengan penyakit dan atau hospitalisasi anak.
(Wong L. Donna. 2003;463)
g.  Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan meningkatnya metabolisme.
h.  Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan perawatan di rumah.

(Suriadi & Rita. 2006; 35)

 

3.      Intervensi

a)      Diagnosa 1

Tujuan : pertukaran gas kembali normal.

Kriteria : Klien memperlihatkan perbaikan ventilasi, pertukaran gas secara optimal dan oksigenisasi jaringan secara adekuat

Rencana tindakan :

1)              Ciptakan lingkungan dengan tinggi kelembabannya dengan cara menempatkan ke dalam tenda lembab atau alat dengan humidifikasi yang dingin.

2)              Berikan oksigen melalui sungkup muka, kanule hidung, atau oksigen tenda, sesuai petunjuk.

3)              Posisikan anak dengan kepala dan dada lebih tinggi dan leher agak ekstensi.

4)              Lakukan fisioterapi dada setiap 4 jam, atau sesuai petunjuk.

5)              Berikan bronkodilator sesuai petunjuk

6)              Lakukan pengisapan lendir sesuai kebutuhan untuk mengeluarkan secret

7)              Berikan obat antivirus sesuai petunjuk.

8)              Berikan istirahat yang adekuat dengan mengurangi kegaduhan dan pencahayaan dan berikan kehangatan dan kenyamanan

9)              Kaji frekuensi pernafasan anak dan iramanya setiap jam. Jika anak mengalami gangguan pernafasan, auskultasi bunyi nafas, lakukan fisioterapi dada, dan informasikan pengobatan pernafasan.

10)          Monitor denyut apikal pada anak; jika mendeteksi adanya takikardia (dasarkan pada usia anak), laporkan pada dokter kejadian tersebut

Rasional:

1)      Kelembaban yang dingin dari tenda atau Croupette akan membantu mengencerkan lendir dan mengurangi edema bronkiolus

2)      Oksigen akan membantu mengurangi kegelisahan berhubungan dengan kesukaran pernafasan dan hipoksia

3)      Posisi ini mempertahankan terbukanya jalan nafas dan memudahkan respirasi oleh karena menurnnya tekanan diaphragm

4)      Fisoterapi dada membantu menghilangkan dan mengeluarkan mukus yang dapat menghambat jalan nafas yang lebih kecil

5)      Walaupun sering digunakan untuk menangani spasme otot, bronkodilator juga secara efektif mengobatan edema bronkiolus

6)      Mengeluarkan lendir akan membantu membersihkan bronkiolus, akan meningkat pertukaran gas.

7)      Obat anti virus, seperti respiratory syncytial virus immune globulin (RespiGam), digunakan untuk pengobati RSV, ribavirin (Virasole) juga digunakan, walaupun kemanjuran dapat dipertanyakan.

8)      Meningkatkan istirahat akan mengurangi kesukaran pernafasan yang berhubungan dengan bronkiolitis.

9)      Pengkajian yang sering akan menjamin fungsi pernafasan yang adekuat.

10)  Takikardia dapat disebabkan adanya hipoksia atau pengaruh penggunaan bronkodilator.

b)      Diagnosa 2

Tujuan : Bersihan jalan nafas kembali efektif.

Kriteria : sekret dapat keluar.

Rencana tindakan :

1)      Observasi TTV

2)      Kaji frekwensi dan  kedalaman gerakan dada

3)      Auskultasi daerah paru, catat area penurunan / tidak adanya aliran udara dan bunyi nafas

4)      Berikan obat sesuai indikasi

5)      Libatkan keluarga dalam setiap tindakan

6)      Monitor status respirasi setiap 2 jam, kaji adanya peningkatan pernapasan dan buny napas abnormal.

7)      Lakukan suction sesuai indikasi.

8)      Beri terapi oksigen setiap 6 jam

9)      Ciptakan lingkungan / nyaman sehingga pasien dapat tidur dengan tenang

10)  Beri posisi yang nyaman bagi pasien

11)  Monitor analisa gas darah untuk mengkaji status pernapasan

Rasional:

1)      Mengetahui tanda- tanda vital pada anak

2)      Takipnoe, pernafasan dangkal, dan gerakan tak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan gerakan dinding dada dan atau cairan paru- paru

3)      Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan, bunyi nafas bronchial ( normal pada bronchus ) dapat juga terjadi pada area konsolidasi.

4)      Therapi obat merupakan suatu cara untuk meurunkan spasme bronchus dengan mobilisasi secret

5)      Membina hubungan saling percaya

6)      Mengetahui tanda- tanda vital pada anak

7)      Mengeluarkan secret

8)      Memberikan kebutuhan oksigen terhadap tubuh

9)      Anak dapat tidur dengan tenang

10)  Untuk mengkaji status pernapasan

c)      Diagnosa 3

Tujuan : Klien tidak menunjukkan tanda- tanda infeksi sekunder

Kriteria : Terjadi penurunan gejala infeksi.

Rencana tindakan :

1)      Ajarrkan mencuci tangan yang baik

2)      Isolasi anak sesuai indikasi.

3)      Beri antibiotic sesuai ketentuan

4)      Berikan diet bergizi sesuai kesukaan anak dan kemauan untuk mengkonsumsi nutrisi

5)      Anjurkan fisioterapi dada yang baik

6)      Ajarkan anak dan/ atau keluarga tentang manifestasi penyakit

Rasional:

1)      Mempertahankan lingkungan aseptik.

2)      Mencegah penyebaran infeksi nasokomial

3)      Mencegah atau mengatasi infeksi

4)      Mendukung pertahanan tubuh alami.

5)      Memfasilitasi proses penyembuhan

6)      Meningkatkan pengetahuan keluarga

d)     Diagnosa 4

Tujuan : Tidak terjadi peningkatan suhu tubuh.

Kriteria : Hipertermi/peningkatan suhu dapat teratasi dengan proses infeksi hilang

Rencana tindakan :

1)      Pertahankan lingkungan yang sejuk melalui penggunaan piyama sinar kuat dan selimut dan pertahankan temperatur ruangan antara 72º dan 75ºF (22º dan 24º C).

2)      Berikan antipiretik sesuai petunjuk.

3)      monitor temperatur anak setiap 1 sampai 2 jam bila terjadi peningkatan secara tiba-tiba

4)      Berikan antimikroba, jika disarankan

5)      Berikan kompres pada anak (98,6º F [37ºC]) guna menurunkan demam

Rasional:

1)      Lingkungan yang sejuk akan membantu menurunkan temperatur tubuh melalui kehilangan panas melalui radiasi.

2)      Antipiretika seperti acetaminophen (Tyleno), efektif menurunkan demam

3)      Peningkatan temperatur secara tiba-tiba akan mengakibatkan kejang-kejang

4)      Antimikroba sesuai dengan petunjuk guna mengobati organisma penyebab. Antibiotik biasanya tidak disarnkan untuk mengobati RSV.

5)      Kompres air efektif menyebabkan tubuh menjadi dingin melalui peristiwa konduksi.

e)      Diagnosa 5

Tujuan : Meningkatkan kebutuhan istirahat anak

Kriteria : Fatigue dapat diatasi dengan berkurangnya distress pernafasan

Rencana tindakan :

1)      Kaji tingkat kemampuan aktifitas anak

2)      Berikan periode istirahat dan hindari hal- hal yang melelahkan anak: sering menangis, frekwensi prosedur

3)      Berikan lingkungan yang nyaman dan tenang

4)      Atur posis anak yang nyaman dan sesuai kebutuhan

         Rasional:

1)         Memberikan aktifitas pengalihan yang tepat dan sesuai dengan kemampuan kognitif dan kondisi anak

2)         Memberikan kenyamanan tidur anak

3)         Memaksimalkan istirahat

4)         Kegaduhan yang tidak dikehendaki dan aktifitas yang menyebabkan kelelahan pada anak akan meningkatkan terjadinya gangguan pernafasan.

f)       Diagnosa 6

Tujuan : Menurunnya rasa cemas keluarga.

Kriteria : Anak dan orang tua akan berkurang kecemasannya yang ditandai mengekspresikan pemahamannnya tentang kondisi anak

Rencana tindakan :

1)         Kaji pengetahuan orang tua dan (jika perlu) anak tentang kondisi anak dan program pengobatan yang diberikan.

2)         Dorong orang tua tinggal bersama anak

3)         Jelaskan semua prosedur sesuai dengan perkembangan anak

4)         Berikan dukungan emosional pada orang tua selama tinggal dirumah sakit.

 

Rasional :

1)         Pengkajian sebagai dasar memulai pengajaran.

2)         Tinggal bersama dengan anak memungkinkan orang tua memberikan dukungan dan membantu mengurangi kecemasan pada keduanya yaitu anak dan orang tua.

3)         Memberikan penjelasan sebelum prosedur dan selama tinggal di rumah sakit akan menurunkan kecemasan akibat kesalahan pemahaman dan kuirangnya pengetahuan.

4)         Hospitalisasi menimbulkan krisis situasi. Mendengarkan perhatian orang tua serta perasannnya akan membantu dia untuk menangani krisis yang dialami

g)      Diagnosa 7

Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi.

Kriteria : Klien dapat mempertahankan/meningkatkan pemasukan nutrisi..

Rencana tindakan :

1)         Kaji status nutrisi klien

2)         Lakukan pemeriksaan fisik abdomen klien (auskultasi, perkusi, palpasi, dan inspeksi)

3)         Timbang BB klien setiap hari.

4)         Kaji adanya mual dan muntah

5)         Berikan diet sedikit tapi sering

6)         Berikan makanan dalam keadaan hangat

7)         kolaborasi dengan tim gizi

Rasional  :

1)         Mengetahui kebutuhan pemenuhan makanan

2)         Mengetahui keadaan fisik klien

3)         Mengetahui intake yang adekuat atau tidak

4)         Mengkaji penyebab mual dan muntah

5)         Makan yang sedikit tapi sering memerlukan sedikit pengeluaran energi dan penggunaan pernafasan. Anak makan banyak pada setiap kali makan termasuk makanan kesukaannya.

6)         Mampu meningkatkan nafsu makan

7)         Diet tinggi protein,tinggi kalori diperlukan anak untuk meningkatkan kebutuhan metabolik.

h)      Diagnosa 8

Tujuan : Pengetahuan orang tua klien tentang proses penyakit anaknya meningkat setelah dilakukan tindakan keperawatan

Kriteria : Orang tua klien mengerti tentang penyakit anaknya.

Rencana tindakan :

1)         Kaji tingkat pengetahuan orang tua klien tentang proses penyakit anaknya

2)         Kaji tingkat pendidikan orang tua klien

3)         Ajarkan orang tua dan anak (jika perlu) bagaimana dan kapan pemberian pengobatan, termasuk uraian tentang dosis dan reaksi nya.

4)         Jelaskan tanda tanda dan gejala-gejala kesukaran pernafasan dan infeksi, termasuk demam, dispnea, takipnea, perubahan warna sputum, dan adanya wheezing.

5)         Ajarkan perlunya menciptakan lingkungan yang lembab dan sejuk.

Rasional :

1)         Pemahaman diperlukan untuk mempertahankan program pengobatan yang teraur yang dapat membantu orang tua berada dengan anak selama pengobatan. Mengetahui akibat lanjut pengobatan diharapkan orang tua segera meminta bantua seuai kebutuhan.

2)         Pengetahuan yang tepat pada orang tua akan memberikan perhatian pada saran dokter saat diperlukan

3)         Setelah infeksi,anak akan isitirahat secara teratur merupakan alat untuk kembali pulih dan mencegah kambuhnya infeksi.

4)         Pemberian cairan akan mengencerkan lendir. Diet tinggi kalori akan membantu mengembalikan kalori yang diperlukan dalam melawan penyakit.

5)         Udara yang lembab membantu mengencerkan lendir. Uidara yang lembab dan sejuk yang berasal dari tenda yang terpasang pada anak akan menjamin penguapan dan udara yang hangat, yang dapat menyebabkan kebakaran.

 

4. Evaluasi

Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan Brochiolitis adalah :

  1. Pertukaran gas normal.
  2. Bersihan jalan napas kembali efektif
  3. Intake dan output seimbang
  4. Suhu tubuh dalam batas normal
  5. Meningkatkan kebutuhan istirahat
  6. Menurunnya rasa cemas pada keluarga
  7. Kebutuhan nutrisi terpenuhi
  8. Pengetahuan keluarga meningkat

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    LATAR BELAKANG

Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) seperti TBC, Diphteri, Pertusis, Campak, Tetanus, Polio, dan Hepatitis B merupakan salah satu penyebab kematian anak di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Diperkirakan 1,7 juta kematian pada anak atau 5% pada balita di Indonesia adalah akibat PD3I. Difteri merupakan salah satu penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheriae, oleh karena itu penyakitnya diberi nama serupa dengan kuman penyebabnya. Sebelum era vaksinasi, racun yang dihasilkan oleh kuman ini sering meyebabkan penyakit yang serius, bahkan dapat menimbulkan kematian. Tapi sejak vaksin difteri ditemukan dan imunisasi terhadap difteri digalakkan, jumlah kasus penyakit dan kematian akibat kuman difteri menurun dengan drastis.

Penyebaran atau penularan bakteri ini melalui udara, berupa infeksi droplet, selain itu dapat pula melalui benda atau makanan yang terkontaminasi, dan yang sering terjangkit penyakit ini adalah anak-anak.

Sebagai peetugas kesehatan perawat wajib memberikan asuhan keperawatan pada klien yang menderita difteri ini termasuk anak-anak dengan tidak hanya memperhatikan keadaan umum klien tetapi juga memperhatikan aspek tumbuh kembang dari anak tersebut yang mengalmi penyakit difteri  sehgingga usah unti mencapai kesajhteraan anak terwujud.

  1. B.     TUJUAN
    1. TUJUAN UMUM

Berdasarkan latar belakang diatas maka tujuan pembuatan makalah ini  adalah Untuk memahami gambaran Asuhanm Keperawatan Teoritis pada Anak yang mengalami Penyakit Difter

  1. TUJUAN KHUSUS
  2. Memahami Teoritis Askep pada anak yang mengalami Difteri
  3. Untuk melatih pembuatan ASKEP yang nantinya bermanfaat dalam pengaplikasian pendokumentasian tindakan keperawatan
  4. Untuk memenuhi Tugas Keperawatan anak yang diberikan oleh Ibuk Ns. Yeni Suki Skep

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

 

  1. A.    DEFINISI

Difteri adalah suatu penyakita infeksi yang bisa menular yang disebabkan oleh bakteri coryneabacterium diphteria yang berasal dari membran mukosa hidung dan nasovaring, kulit dan lesi lain dari orang yang terinfeksi (Buku Pegangan Praktek Klinik Asuhan Keperawatan pada Anak)

Difteri adalah penyakit infeksi yang mendadak yang disebabkan oleh kuman Coryneabacterium diphteria. Mudah menular dan yang diserang terutama traktus respiratorius bagian atas dengan tanda khas terbentuknya pseudo membran dan dilepaskannya eksotoksin yang dapat menimbulkan gejala umum dan lokal (Ilmu Kesehatan Anak)

 

  1. B.     ETIOLOGI

Penyebab penyakit difteri adalah Corynebacterium diphtheriae. Berbentuk batanggram positif, tidak berspora, bercampak atau kapsul. Infeksi oleh kuman sifatnya tidak invasive, tetapi kuman dapat mengeluarkan toxin, yaitu exotoxin. Toxin difteri ini, karena mempunayi efek patoligik meyebabkan orang jadi sakit. Ada tiga type variants dari Corynebacterium diphtheriae ini yaitu : type mitis, type intermedius dan type gravis.

Corynebacterium diphtheriae dapat dikalsifikasikan dengan cara bacteriophage lysis menjadi 19 tipe. Tipe 1-3 termasuk tipe mitis, tipe 4-6 termasuk tipe intermedius, tipe 7 termasuk tipe gravis yang tidak ganas, sedangkan tipe-tipe lainnya termasuk tipe gravis yang virulen. Corynebacterium diphtheriae ini dalam bentuk satu atau dua varian yang tidak ganas dapat ditemukan pada tenggorokan manusia, pada selaput mukosa.(Depkes,2007)

 

 

  1. C.    PATOFISIOLOGI

Sumber penularan penyakit difteri ini adalah manusia, baik sebagai penderita maupun sebagai carier. Cara penularannya yaitu melalui kontak dengan penderita pada masa inkubasi atau kontak dengan carier. Caranya melalui pernafasan atau droplet infection. Masa inkubasi penyakit difteri ini 2 – 5 hari, masa penularan penderita 2-4minggu sejak masa inkubasi, sedangkan masa penularan carier bisa sampai 6 bulan. Penyakit difteri yang diserang terutama saluran pernafasan bagian atas.

Ciri khas dari penyakit ini ialah pembekakan di daerah tenggorokan, yang berupa reaksi radang lokal, dimana pembuluh-pembuluh darah melebar mengeluarkan sel darah putih sedang sel-sel epitel disitu rusak, lalu terbentuklah disitu membaran putih keabu-abuan (psedomembrane). Membran ini sukar diangkat dan mudah berdarah. Di bawah membran ini bersarang kuman difteri dan kuman-kuman ini mengeluarkan exotoxin yang memberikan gejala-gejala yang lebih berat dancKelenjer getah bening yang berada disekitarnya akan mengalami hiperplasia dan mengandung toksin. Eksotoksin dapat mengenai jantung dapat menyebabkan  miyocarditisct toksik atau mengenai jaringan perifer sehingga timbul paralisis terutama pada otot-otot pernafasan. Toksini ini juga dapat menimbulkan nekrosis fokal pada hati dan ginjal, malahan dapat timbul nefritis interstisial Penderita yang paling berat didapatkan pada difteri fauncial dan faringea karena terjadi penyumbatan membran pada laring dan trakea sehingg saluran nafas ada obstruksi dan terjadi gagal nafs, gagal jantung yang bisa mengakibatkan kematian, ini akibat komplikasi yang seriing pada bronkopneumoni

Menurut tingkat keparahannya, penyakit ini dibagi menjadi 3 tingkat yaitu:

  • Infeksi ringan bila pseudomembran hanya terdapat pada mukosa hidung dengan gejala hanya nyeri menelan.
  • Infeksi sedang bila pseudomembran telah menyerang sampai faring (dindingbelakang rongga mulut) sampai menimbulkan pembengkakan pada laring.
  • Infeksi berat bila terjadi sumbatan nafas yang berat disertai dengan gejalakomplikasi seperti miokarditis (radang otot jantung), paralisis (kelemahananggota gerak) dan nefritis (radang ginjal).

 

  1. D.    MANIFESTASI KLINIS

Penyakit ini juga dibedakan menurut lokasi gejala yang dirasakan pasien :

  • Difteri hidung (nasal diphtheria) bila penderita menderita pilek dengan ingusyang bercampur darah. Prevalesi Difteri ini 2 % dari total kasus difteri. Bila tidak diobati akan berlangsung mingguan dan merupakan sumber utama penularan.
  • Difteri faring (pharingeal diphtheriae)dan tonsil dengan gejala radang akut tenggorokan, demam sampai dengan 38,5 derajat celsius, nadi yang cepat, tampak lemah, nafas berbau, timbul pembengkakan kelenjar leher. Pada difteri jenis ini juga akan tampak membran berwarna putih keabu abuan kotor di daerah rongga mulut sampai dengan dinding belakang mulut (faring).
  • Difteri laring ( laryngo tracheal diphtheriae ) dengan gejala tidak bisa bersuara, sesak, nafas berbunyi, demam sangat tinggi sampai 40 derajat celsius, sangat lemah, kulit tampak kebiruan, pembengkakan kelenjar leher. Difteri jenis ini merupakan difteri paling berat karena bisa mengancam nyawa penderita akibat gagal nafas.
  • Difteri kutaneus (cutaneous diphtheriae) dan vaginal dengan gejala berupa luka mirip sariawan pada kulit dan vagina dengan pembentukan membran diatasnya. Namun tidak seperti sariawan yang sangat nyeri, pada difteri, luka yang terjadi cenderung tidak terasa apa apa.

 

 

  1. E.     WOC DIFTERI PADA ANAK

 

Terpapar Corynebacterium difteria diudara

 

Masuk kedalam dan hinggap di mukosa Tubuh

 

 
   

 

 

  Difteri

 

 
   

 

 

Membentuk Pseudomonia

 

 
 

MK: Resiko penyebarlusan infeksi

 

 

Mengeluarkan toksin (eksotoksin)

Lokal                                                                                                                                                   Sistemik

                                                               

                Infeksi Nasal                        Infeksi tonsil                    Infeksi kel. Geth bening                  Infeksi pada laring                      Miokarditis                            Infeksi kutaneus

              dan laring                                                                                      dan trakea         

 

       
       
 

 

 

MK: Resiko kekurangan volume cairan

 

Peradangan mukosa hidung               Nyeri Pada tonsil                           Demam                  Penumpukan         Pembesaran         gagal jantung         Nefritis   vagina konjungtifa

                                                                                                                           Sekret             pseudomembran

Influensa       Hidung serosa    Nyeri menelan   Mual muntah                                                                                                        

                                                                                                                               Obstruksi jalan nafas

 

MK: Tidak efektyif bersihan jalan nafas

 

MK: Perubahan nutrisi Kurang dari kebutuhan tubuh

 

                                                                   Anoreksia

 

 
   

 

                                                                                                                                                                                    Apneu

                                                        Lemah dan lesu

 

                                                                                                                                                                  Sianosis

 

  1. F.     KOMPLIKASI

Komplikasi bisa dipengaruhi oleh virulensi kuman, luas membran, jumlah toksin, waktu antara timbulnya penyakit dengan pemberian antitoksin. Komplikasi difteri terdiri dari :

  1. Infeksi sekunder, biasanya oleh kuman streptokokus dan stafilokokus
  2. Infeksi Lokal : obstruksi jalan nafas akibat membran atau oedema jalan nafas
  3. Infeksi Sistemik karena efek eksotoksin

 

Komplikasi yang terjadi antara lain kerusakan jantung, yang bisa berlanjut menjadi gagal jantung. Kerusakan sistem saraf berupa kelumpuhan saraf penyebab gerakan tak terkoordinasi. Kerusakan saraf bahkan bisa berakibat kelumpuhan, dan kerusakan ginjal.

 

  1. G.    PENATALAKSANAAN MEDIS

Jika anak menderita difteri, ia harus dirawat di rumah sakit karena seringkali menjadi gawat.

  1. Racun yang dihasilkan oleh kuman dieliminasi dengan pemberian anti racun yang disebut dengan anti toksin yang spesifik untuk kuman difteri.
  2.  Antibiotik diberikan dalam jangka waktu tertentu untuk mengeliminasi kuman, menghentikan produksi racun oleh kuman, dan mengobati infeksi lokal saluran napas bagian atas.
  3. Istirahat total sangat dibutuhkan, terutama pada anak dengantanda-tanda komplikasi pada jantung.

 

  1. H.    ASPEK TUMBUH KEMBANG

 

–          Konsep Tumbuh Kembang Anak

Konsep tumbuh kembang anak difokuskan pada usia todler yakni 1 – 3 tahun bisa juga dimasukkan dalam tahapan pre operasional yakni umur 2 – 7 tahun. Menurut Yupi. S ( 2004 ) berdasarkan teori peaget bahwa masa ini merupakan gambaran kongnitif internal anak tentang dunia luar dengan berbagai kompleksitasnya yang tumbuh secara bertahap merupakan suatu masa dimana pikiran agak terbatas. Anak mampu menggunakan simbul melalui kata – kata, mengingat sekarang dan akan datang. Anak mampu membedakan dirinya sendiri dengan objek dalam dunia sekelilingnya baik bahasa maupun pikiranya bercirikan egesenterisme, ia tidak mahu menguasai ide persamaan terutama berkaitan dengan masalah–masalah secara logis, tetapi dalam situasi bermain bebas ia cenderung untuk memperlihatkan perilaku logis dan berakal sehat pada tahap ini akan mulai mengenal tubuhnya

Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu yang dapat diukur dengan ukuran berat ( gram, pounnd, kilogram ). Ukuran panjang ( cm, meter ). Umur tulang dan keseimbangan metabolik ( retensi kalium dan nitrogen tubuh ). Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi yang lebih komplek dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan ( Soetjiningsih, 1998: 1 ).

Pada pertumbuhan fisik dapat dinilai pertambahan berat badan sebanyak 2,2 Kg/ tahun dan tinggi badan akan bertambah kira – kira 7,5 cm/ tahun. Proporsi tumbuh berubah yaitu lengan dan kaki tumbuh lebih cepat dari pada kepala dan badan lorosis lumbal pada medulla spinalis kurang terlihat dan tungkai mempunyai tampilan yang bengkok. Lingkar kepala meningkat 2,5 cm/ tahun dan fontanella anterior menutup pada usia 15 bulan. Gigi molar pertama dan molar kedua serta gigi taring mulai muncul ( Betz & Sowden, 2002: 546 ).   

 

–      \Strategi Pengurangan Dampak Hospitalisasi Pada Usia Todler

Pada usia todler anak cenderung egosentris maka dalam menjelaskan prosedur dalam hubungan dengan cara apa yang akan anak lihat, dengar, bau, raba dan rasakan. Katakan pada anak tidak apa- apa menangis atau gunakan ekspresi verbal untuk mengatakan tidak nyaman.

Pada usia ini juga mengalami keterbatasan kemampuan berkomunikasi lebih sering menggunakan perilaku atau sikap. Sedikit pendekatan yang sederhana menggunkan contoh peralatan yang kecil ( ijinkan anak untuk memegang peralatan ) menggunakan permainan.

Pada usia ini menjadikan hubungan yang sulit antara anak dengan perawat diperlukan orang tua pada keadaan ini, apapun cara yang dilakukan anaka harus merupakan pertimbangan pertama. Ibu harus didorong untuk tinggal atau paling sedikit mengunjungi anaknya sesering mungkin ( Yupi, S 2004).


BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

  1. A.    PENGKAJIAN
  2. IDENTITAS
  3. RIWAYAT KESEHATAN

–          Riwayat Kesehatan Sekarang

Perhatikan tanda-tanda atau gejala  klinis dari difteri

–          Riwayat Kesehatan Dahulu

Bersangkutan  dari etiologi (pernah atau tidak terkena difteri) atau gejala-gejala difteri yang masih akut

–          Riwayat Kesehatan Keluarga

Mengkaji apakah anggota keluarga ada yang mengidap penyakit difteri

 

  1. PEMERIKSAAN FISIK

Memeriksa TTV pada anak dan melakukan observasi secara IPPA dari kepala samapai kaki (Head to toe) dan yang terpenting adalah .  Kaji tanda-tanda yang terjadi pada nasal, tonsil/faring dan laring. Lihat dari manifestasi klinis berdasarkan alur patofisiolog

 

  1. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Uji Shick dilakukan dengan menyuntikkan sejumlah kecil toksin difteri ke dalam kulit. Jika orang tersebut kebal, maka toksin tersebut dinetralkan oleh antitoksin di dalam tubuhnya dan tidak terjadi reaksi. Tetapi bila orang itu rentan-tidak mempunyai antitoksin alamiah naka akan terjadi reaksi peradangan setempat yang mencapai intensitas maksimum dalam 4 – 7 hari. Jika uji Shick ini menunjukkan adanya kerentanan terhadap difteri, maka orang dewasa sekalipun harus diimunisasi secara aktif.

 

  1. POLA AKTIVITAS

a]. Pola nutrisi dan metabolik: disesuaikan dengan tanda difteri seperti apakah  nafsu amakan berkuarang (anoreksia) muntah dsb

b]. Pola eliminasi : Bandingkan  sesudah atau sebelum penyakit difteri dengan mencatat frekuensi sehari

c]. Pola Aktifitas dan latihan : Jika klien terjangkit difteri maka tampak anak akan malas, lemah dan lesu

d]. Pola tidur dan istirahat : Mengkaji apakah anak tidurnya nyaman atau  tidak mau tidur

       e]. Kognitif & perseptual : anak akan susah berkonsentrasi

f]. Persepsi diri : Karena klien masih kategori anak maka konsep dirinya akan masih dalam tahap perkembangan dan anak akan tampak cemas karena penyakit yang diderita atau kerna perspisahan

g]. Hubungan peran : Anak banyak tampak diam karena efek hospitalisasi

  1. B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN

 

  1. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan obstruksi pada jalan nafas.
  2. Resiko penyebarluasan infeksi berhubungan dengan organisme virulen.
  3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang kurang).
  4. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan proses penyakit (metabolisme meningkat, intake cairan menurun).


 

  1. C.    RENCANA KEPERAWATAN

 

 

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJAN DAN KRITERIA

INTERVENSI

Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan obstruksi pada jalan nafas.

Tujuan dan kriteria : Anak akan menunjukan tanda jalan nafas efektif

Intervensi:

–          Mengkaji status pernafasan dengan menobservasi irama dan bunnyi pernafasan

–          Mengatur posisi kepala dengan posisi ekstensi

–          Melakukan suction jalan nafas jika terdapat sumbatan

–          Melakukan fisioterapi dada

–          Mempersiapkan anak untuk dilakukan trakeostomi

–          Melakukan pemeriksaan analisa gas darah

–          Melakukan intubasi jika ada indikasi

 

Resiko penyebarluasan infeksi berhubungan dengan organisme virulen.

Penyebar luasan infeksi tidak terjadi

–          Menempatkan anak pada daerah khusus

–          Mempertahankan isolasi yang ketat di rumahg sakit

–          Menggunakan prosedur perlindungan infeksi jika melakukan kontak dengan anak

–          Memberikan antibiotik sesuai dengan order

 

 

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang kurang).

 

anak menunjukan tanda-tanda kebutuhan nutrisi terpenuhi

 

 

–          Mengkaji ketidak mampuan anak untuk makan

–          Memasang NGT untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak

–          Melakukan kolaborasi dalam pemberian nutrisi parenteral

–          Menilai indikator terpenuhinya kebutuhan nutrisi (berat badan, lingkar lengan, membran mukosa) yang adekuat

Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan proses penyakit (metabolisme meningkat, intake cairan menurun).

volume cairan adekuat

–          Memonitor intake output secara tepat, pertahankan intake cairan dan elektrolit yang tepat

–          Mengakji adanya tanda-tanda dehidrasi (membran mukosa kerin, turgor, kulit kurang, produksi urin menurun, frekuensi denyut nadi dan pernafasan, meningkat tekannan darah, fontanel cekung

–          Berkolaborasi untuk pemberian cairan parenteral jika pemberian cairan melalui oral tidak memungkinkan

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    KESIMPULAN
    1. Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheriae, oleh karena itu penyakitnya diberi nama serupa dengan kuman penyebabnya.
    2. Menurut tingkat keparahannya, penyakit ini dibagi menjadi 3 tingkat yaitu: Infeksi ringan, Infeksi sedang dan Infeksi berat
    3. Menurut lokasi gejala difteria dibagi menjadi : Difteri hidung, difteri faring, difteri laring dan difteri kutaneus dan vaginal
    4. Gejala klinis penyakit difteri ini adalah :
  • Panas lebih dari 38 °C
  • Ada psedomembrane bisa di pharynx, larynx atau tonsil
  • Sakit waktu menelan
  • Leher membengkak seperti leher sapi (bullneck), disebabkan karenapembengkakan kelenjar leher

 

  1. B.     SARAN

Difteri adalah suatu penyakit infeksi yang bisa mengakibatkan miokarditis untuk itu mencegah penyebaran infeksi merupakan tindakan yang harus dilakukan, untuk itu petugas kesehatan (perawat) harus tahu hal itu dan keluarga harus sensitif terhadap keadaan anak jika mengidap difteri

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Staf pengajar UI.  1995 . Ilmu Kesehatan Anak . Fakultas kedokteran. Jakarta

Yuliana, Rita . Supriadi . 2005 . Asuhan Keperawatan Anak . PT percetakan swadaya. Jakarta

http//:www.scribd.com.//difteri//

:http://www.indonesianpublichealth.blogspot.com

 

refreat Hordeolum

BAB I

PENDAHULUAN

 

          Kelopak mata adalah bagian mata yang sangat penting. Kelopak mata melindungi kornea dan berfungsi dalam pendisribusian dan eliminasi air mata. Penutupan kelopak mata berguna untuk menyalurkan air mata ke seluruh permukaan mata dan memompa air mata melalui punctum lakrimalis.

            Kelainan yang didapat pada kelopak mata bermacam-macam, mulai dari yang jinak sampai keganasan, proses inflamasi, infeksi mau pun masalah struktur seperti ektropion, entropion dan blepharoptosis. Untungnya, kebanyakan dari kelainan kelopak mata tidak mengancam jiwa atau pun mengancam penglihatan.1

          Hordeolum adalah salah satu penyakit yang cukup sering terjadi pada kelopak mata. Secara klinis kelainan ini sering sulit dibedakan dengan kalazion akut. Hordeolum merupakan infeksi lokal atau proses peradangan pada kelopak mata. Bila kelenjar Meibom yang terkena disebut hordeolum internum, sedangkan bila kelenjar Zeiss atau Moll yang terkena maka disebut hordeolum eksternum.2

            Hordeolum biasanya menyerang pada dewasa muda, namun dapat juga terjadi pada semua umur, terutama orang-orang dengan taraf kesehatan yang kurang. Mudah timbul pada individu yang menderita blefaritis dan konjungtivitis menahun.3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

A. ANATOMI PALPEBRA

            Palpebra superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang dapat menutup dan melindungi bola mata bagian anterior. Berkedip melindungi kornea dan konjungtiva dari dehidrasi. Palpebra superior berakhir pada alis mata; palpebra inferior menyatu dengan pipi.

            Palpebra terdiri atas lima bidang jaringan utama. Dari superfisial ke dalam terdapat lapis kulit, lapis otot rangka (orbikularis okuli), jaringan areolar, jaringan fibrosa (tarsus), dan lapis membran mukosa (konjungtiva pelpebrae).5

  1. Kulit

Kulit pada palpebra berbeda dari kulit bagian lain tubuh karena tipis, longgar, dan elastis, dengan sedikit folikel rambut, tanpa lemak subkutan.

  1. Muskulus Orbikularis okuli

Fungsi otot ini adalah untuk munutup palpebra. Serat ototnya mengelilingi fissura palpebra secara konsentris dan meluas sedikit melewati tepian orbita. Sebagian serat berjalan ke pipi dan dahi. Bagian otot yang terdapat di dalam palpebra dikenal sebagai bagian pratarsal; bagian diatas septum orbitae adalah bagian praseptal. Segmen luar palpebra disebut bagian orbita. Orbikularis okuli dipersarafi oleh nervus facialis.

  1. Jaringan Areolar

Terdapat di bawah muskulus orbikularis okuli, berhubungan degan lapis subaponeurotik dari kujlit kepala.

  1. Tarsus

Struktur penyokong utama dari palpebra adalah lapis jaringan fibrosa padat yang disebut tarsus superior dan inferior. Tarsus terdiri atas jaringan penyokong kelopak mata dengan kelenjar Meibom (40 buah di kelopak atas dan 20 buah di kelopak bawah).

 

 

  1. Konjungtiva Palpebrae

Bagian posterior palpebrae dilapisi selapis membran mukosa, konjungtiva palpebra, yang melekat erat pada tarsus.

            Tepian palpebra dipisahkan oleh garis kelabu (batas mukokutan) menjadi tepian anterior dan posterior. Tepian anterior terdiri dari bulu mata, glandula Zeiss dan Moll. Glandula Zeiss adalah modifikasi kelenjar sebasea kecil yang bermuara dalam folikel rambut pada dasar bulu mata. Glandula Moll adalah modifikasi kelenjar keringat yang bermuara ke dalam satu baris dekat bulu mata. Tepian posterior berkontak dengan bola mata, dan sepanjang tepian ini terdapat muara-muara kecil dari kelenjar sebasesa yang telah dimodifikasi (glandula Meibom atau tarsal)

            Punktum lakrimalis terletak pada ujung medial dari tepian posterior palpebra. Punktum ini berfungsi menghantarkan air mata ke bawah melalui kanalikulus terkait ke sakus lakrimalis.

            Fisura palpebrae adalah ruang elips di antara kedua palpebra yang dibuka. Fisura ini berakhir di kanthus medialis dan lateralis. Kanthus lateralis kira-kira 0,5 cm dari tepian lateral orbita dan membentuk sudut tajam.

            Septum orbitale adalah fascia di belakang bagian muskularis orbikularis yang terletak di antara tepian orbita dan tarsus dan berfungsi sebagai sawar antara palpebra orbita. Septum orbitale superius menyatu dengan tendo dari levator palpebra superior dan tarsus superior; septum orbitale inferius menyatu dengan tarsus inferior.5

            Retraktor palpebrae berfungsi membuka palpebra. Di palpebra superior, bagian otot rangka adalah levator palpebra superioris, yang berasal dari apeks orbita dan berjalan ke depan dan bercabang menjadi sebuah aponeurosis dan bagian yang lebih dalam yang mengandung serat-serat otot polos dari muskulus Muller (tarsalis superior). Di palpebra inferior, retraktor utama adalah muskulus rektus inferior, yang menjulurkan jaringan fibrosa untuk membungkus meuskulus obliqus inferior dan berinsersio ke dalam batas bawah tarsus inferior dan orbikularis okuli. Otot polos dari retraktor palpebrae disarafi oleh nervus simpatis. Levator dan muskulus rektus inferior dipasok oleh nervus okulomotoris.

            Pembuluh darah yang memperdarahi palpebrae adalah a. Palpebra. Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal nervus V, sedang kelopak mata bawah oleh cabang kedua nervus V. 6

 

Figure 2. Anatomy of upper and lower eyelids.

 

 

                                                        

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B. DEFINISI

            Hordeolum adalah infeksi kelenjar pada palpebra. Bila kelenjar Meibom yang terkena, timbul pembengkakan besar yang disebut hordeolum interna. Sedangkan hordeolum eksterna yang lebih kecil dan lebih superfisial adalah infeksi kelenjar Zeiss atau Moll.5

 

                                   

                                    Gb I. Hordeolum eksterna10

 

 

                                     

                                       Gb II. Hordeolum interna 2

 

 

C. ETIOLOGI

            Staphylococcus aureus adalah agent infeksi pada 90-95% kasus hordeolum.3

 

D. FAKTOR RESIKO

1. Penyakit kronik.

2. Kesehatan atau daya tahan tubuh yang buruk.

3. Peradangan kelopak mata kronik, seperti Blefaritis.

4. Diabetes

5. Hiperlipidemia, termasuk hiperkolesterolemia.

6. Riwayat hordeolum sebelumnya

7. Higiene dan lingkungan yang tidak bersih

8. Kondisi kulit seperti dermatitis seboroik.4

 

 

 

E. PATOFISIOLOGI

            Hordeolum externum timbul dari blokade dan infeksi dari kelenjar Zeiss atau Moll. Hordeolum internum timbul dari infeksi pada kelenjar Meibom yang terletak di dalam tarsus.

            Obstruksi dari kelenjar-kelenjar ini memberikan reaksi pada tarsus dan jaringan sekitarnya. Kedua tipe hordeolum dapat timbul dari komplikasi blefaritis. 2,3

 

F. GEJALA DAN TANDA

Gejala 2,3

–          Pembengkakan

–          Rasa nyeri pada kelopak mata

–          Perasaan tidak nyaman dan sensasi terbakar pada kelopak mata

–          Riwayat penyakit yang sama

 

Tanda 7

–          Eritema

–          Edema

–          Nyeri bila ditekan  di dekat pangkal bulu mata

–          Seperti gambaran absces kecil

 

G. PENATALAKSANAAN

            Biasanya hordeolum dapat sembuh dengan sendiri dalam waktu 5-7 hari.8

Umum

  1. Kompres hangat 4-6 kali sehari selama 15 menit tiap kalinya untuk membantu drainase. Lakukan dengan mata tertutup.
  2. Bersihkan kelopak mata dengan air bersih atau pun dengan sabun atau sampo yang tidak menimbulkan iritasi, seperti sabun bayi. Hal ini dapat mempercepat proses penyembuhan. Lakukan dengan mata tertutup.
  3. Jangan menekan atau menusuk hordeolum, hal ini dapat menimbulkan infeksi yang lebih serius.
  4. Hindari pemakaian makeup pada mata, karena kemungkinan hal itu menjadi penyebab infeksi.
  5. Jangan memakai lensa kontak karena dapat menyebarkan infeksi ke kornea.

 

Obat

            Antibiotik diindikasikan bila dengan kompres hangat selama 24 jam tidak ada perbaikan, dan bila proses peradangan menyebar ke sekitar daerah hordeolum.

  1. Antibiotik topikal.

Bacitracin atau tobramicin salep mata diberikan setiap 4 jam selama 7-10 hari. 3

Dapat juga diberikan eritromicin salep mata untuk kasus hordeolum eksterna dan hordeolum interna ringan.9    

      2.   Antibiotik sistemik

Diberikan bila terdapat tanda-tanda bakterimia atau terdapat tanda pembesaran kelenjar limfe di preauricular. 3

Pada kasus hordeolum internum dengan kasus yang sedang sampai berat. Dapat diberikan cephalexin atau dicloxacilin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 7 hari. Bila alergi penisilin atau cephalosporin dapat diberikan clindamycin 300 mg oral 4 kali sehari selama 7 hari atau klaritromycin 500 mg 2 kali sehari selama 7 hari.9

 

Pembedahan

            Bila dengan pengobatan tidak berespon dengan baik, maka prosedur pembedahan mungkin diperlukan untuk membuat drainase pada hordeolum. 8

            Pada insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anestesi topikal dengan pantokain tetes mata. Dilakukan  anestesi filtrasi dengan prokain atau lidokain di daerah hordeolum dan dilakukan insisi yang bila:

–          Hordeolum internum dibuat insisi pada daerah fluktuasi pus, tegak lurus pada margo palpebra.

–          Hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar dengan margo palpebra.

Setelah dilakukan insisi, dilakukan ekskohleasi atau kuretase seluruh isi jaringan meradang di dalam kantongnya dan kemudian diberikan salep antibiotik. 6

 

BAB III

RINGKASAN

Hordeolum merupakan infeksi lokal atau proses peradangan pada kelopak mata. Bila kelenjar Meibom yang terkena disebut hordeolum internum, sedangkan bila kelenjar Zeiss atau Moll yang terkena maka disebut hordeolum eksternum.

 Staphylococcus aureus adalah agent infeksi pada 90-95% kasus hordeolum.

Gejala dan tanda hordeolum antara lain bengkak, nyeri pada kelopak mata, perasaan tidak nyaman dan sensasi terbakar pada kelopak mata, memiliki riwayat penyakit yang sama, eritema, edem, nyeri bila ditekan  di dekat pangkal bulu mata. Seperti gambaran absces kecil.

Penatalaksanaan terdiri dari perawatan umum seperti kompres hangat, antibiotik topikal atau pun sistemik dan pembedahan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR  PUSTAKA

 

  1. http://www.aafp.org.afp/980600ap/articles.html
  2. http://www.emedicine.com/oph/LID.html
  3. http://www.emedicine.com/emerg/OPHTHALMOLOGY.htm
  4. http://www.3-rx.com/stye/default.php
  5. Vaughan, D.G. Oftalmologi Umum, Edisi 14, Cetakan I, Widya Medika, Jakarta, 2000: Hal 17-20
  6. Sidarta, I. Ilmu Penyakit Mata, Edisi III, Cetakan I, Balai Penerbit FK UI, Jakarta. 2004: Hal 92-94
  7. Sidarta, I, dkk. Sari Ilmu Penyakit Mata, Cetakan III, Balai Penerbit FK UI, Jakarta 2003: Hal15 -16
  8. http://www.emedicinehealth.com/script.main/art.asp?articlekey=58821&page=1
  9. http://www.prod.hopkins-abxguide.org/diagnosis/heent/hordeolum_stye_chalazion.html
  10. http://dermatlas.med.jhml.edu/derm

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  LATAR BELAKANG

Penderita dengan kelainan hormon paratiroid, tidak tampak jelas pada kehidupan sehari-hari. Kebanyakan pasien dengan kelainan hormon paratiroid mengalami gangguan dari metabolisme kalsium dan fosfat. Adapun penyakit yang disebabkan oleh kelainan hormon paratiroid yakni hipoparatiroid dan hiperparatiroid. Penyebab kelainan hormon paratiroid sendiri secara spesifik belum diketahui, namun penyebab yang biasa ditemukan yakni hiperplasia paratiroid, adenoma soliter dan karsinoma paratiroid. Parathormon yang meningkat menyebabkan resorpsi tulang, ekskresi ginjal menurun dan absorpsi kalsium oleh usus meningkat. Pada keadaan ini dapat menyebabkan peningkatan sekresi kalsium sehingga manifestasi klinis yang terjadi pada kerusakan pada area tulang dan ginjal.Prevalensi penyakit hipoparatiroid di Indonesia jarang ditemukan. Kira-kira 100 kasus dalam.

setahun yang dapat diketahui, sedangkan di negara maju seperti Amerika Serikat penderita penyakit hipoparatiroid lebih banyak ditemukan, kurang lebih 1000 kasus dalam setahun. Pada Wanita mempunyai resiko untuk terkena hipoparatiroidisme lebih besar dari pria. Prevalensi penyakit hiperparatiroid di Indonesia kurang lebih 1000 orang tiap tahunnya. Wanita yang berumur 50 tahun keatas mempunyai resiko yang lebih besar 2 kali dari pria.

Di Amerika Serikat sekitar 100.000 orang diketahui terkena penyakit hiperparatiroid tiap tahun. Perbandingan wanita dan pria sekitar 2 banding 1. Pada wanita yang berumur 60 tahun keatas sekitar 2 dari 10.000 bisa terkena hiperparatiroidisme. Hiperparatiroidisme primer merupakan salah satu dari 2 penyebab tersering hiperkalsemia; penyebab yang lain adalah keganasan. Kelainan ini dapat terjadi pada semua usia tetapi yang tersering adalah pada dekade ke-6 dan wanita lebih serinbg 3 kali dibandingkan laki-laki. Insidensnya mencapai 1:500-1000. Bila timbul pada anak-anak harus dipikirkan kemungkinan endokrinopati genetik seperti neoplasia endokrin multipel tipe I dan II.

Kelenjar paratiroid berfungsi mensekresi parathormon (PTH), senyawa yang membantu memelihara keseimbangan dari kalsium dan phosphorus dalam tubuh. Oleh karena itu yang terpenting hormon paratiroid penting sekali dalam pengaturan kadar kalsium dalam tubuh sesorang. Dengan mengetahui fungsi dan komplikasi yang dapat terjadi pada kelainan atau gangguan pada kelenjar paratiroid ini maka perawat dianjurkan untuk lebih peka dan teliti dalam mengumpulkan data pengkajian awal dan menganalisa suatu respon tubuh pasien terhadap penyakit, sehingga kelainan pada kelenjar paratiroid tidak semakin berat.

 

  1. A.    Tujuan
  2. Memahami pengertian hiperparatiroid
  3. Mampu memahami etiologi hiperparatiroid
  4.  Memahami patofisiologi hiperparatiroid
  5.  Mampu memahami manifestasi klinik hiperparatiroid
  6.  Mampu memahami pemeriksaan diagnosk hiperparatiroid
  7.  Mampu memahami komplikasi hiperparatiroid
  8.  Mampu memahami penatalaksanaan hiperparatiroid
  9. Mampu memahami konsep dasar asuhan keperawatan hiperparatiroid

 .

B. Manfaat

  1. Agar mampu memahami pengertian hiperparatiroid Mahasiswa mampu memahami etiologi hiperparatiroid
  2. Untuk mampu memahami patofisiologi hiperparatiroid
  3. Untuk mampu memahamimanifestasi klinik hiperparatiroid
  4. Agar lebih mampu memahami pemeriksaan diagnosk hiperparatiroid
  5. Mengetahui komplikasi hiperparatiroid
  6. Memahami penatalaksanaan hiperparatiroid
  7. Memahami konsep dasar asuhan keperawatan hiperparatiroid

 

BAB II

TINJAUAN TEORI

 

2.1 Paratiroid

2.1.1 Anatomi dan Fisiologi

Kelenjar paratiroid adalah empat kelenjar seukuran kacang polong yang berlokasi tepat dibelakang kelenjar tiroid, dua tertanam di kutub superior kelenjar tiroid dan dua di kutub inferiornya. Setiap kelenjar paratiroid panjangnya kira-kira 6 mm, lebar 3 mm, tebal 2 mm, tebal 50 mg, dan memiliki gambaran makroskopik lemak coklat kehitaman. Letak masing-masing kelenjar paratiroid dan jumlahnya dapat cukup bervariasi. Adakalanya, seseorang terlahir dengan satu atau lebih kelenjar paratiroid. Kelenjar-kelenjar tersebut menempel pada tiroid, dalam thymus, atau berlokasi ditempat lain sekitar area ini, namun bagaimanpun kelenjar-kelenjar tersebut berfungsi secara normal.

Kelenjar tiroid dan paratiroid adalah kelenjar yang sama sekali berbeda, setiap kelenjar menghasilkan hormon yang berbeda dengan fungsi yang spesifik. Kelenjar paratiroid berfungsi mensekresi parathormon (PTH), senyawa yang tersusun atas 84 asam amino yang disekresikan oleh kelenjar paratiroid berfungsi membantu memelihar keseimbangan dari kalsium dan phosphorus dalam tubuh. PTH juga berfungi mengatur tingkat kalsium dalam darah, melepaskan kalsium dari tulang, penyerapan kalsium dalam usus, dan ekskresi kalsium dalam urin.
Saat kadar kalsium meningkat, kalsium yang banyak terikat dengan reseptor membrane pada sel di kelenjar paratiroid akan menghambat sintesis PTH dan sekresi dari PTH, dan ketika tingkat kalsium dalam darah jatuh terlalu rendah, kelenjar paratiroid akan meningkatkan sintesis dan mensekresi PTH untuk mengatur kembali kalsium dalam darah agar tetap normal.

 

2.3 Hiperparatiroid

2.3.1 Definisi

Hiperparatiroid adalah suatu keadaan dimana kelenjar-kelenjar paratiroid memproduksi lebih banyak hormon paratiroid dari biasanya. Pada pasien dengan hiperparatiroid, satu dari keempat kelenjar paratiroid yang tidak normal dapat membuat kadar hormon paratiroid tinggi tanpa mempedulikan kadar kalsium. dengan kata lain satu dari keempat terus mensekresi hormon paratiroid yang banyak walaupun kadar kalsium dalam darah normal atau meningkat.
Jika jumlah hormon paratiroid yang disekresi lebih banyak daripada yang dibutuhkan maka ini kita sebut hiperparatiroid primer. Jika jumlah yang disekresi lebih banyak karena kebutuhan dari tubuh maka keadaan ini disebut hiperparatiroid sekunder.

Hiperparatiroidisme adalah karakter penyakit yang disebabkan kelebihan sekresi hormone paratiroid, hormon asam amino polipeptida. Sekresi hormon paratiroid diatur secara langsung oleh konsentrasi cairan ion kalsium. Efek utama dari hormon paratiroid adalah meningkatkan konsentrasi cairan kalsium dengan meningkatkan pelepasan kalsium dan fosfat dari matriks tulang, meningkatkan penyerapan kalsium oleh ginjal, dan meningkatkan produksi ginjal. Hormon paratiroid juga menyebabkan phosphaturia, jika kekurangan cairan fosfat. hiperparatiroidisme biasanya terbagi menjadi primer, sekunder dan tersier. (Lawrence Kim, MD, 2005, section 2).

 

2.3.2 Etiologi

  1. Primer (sekresi PTH tidak sesuai )
    • Adenoma (tersering > 80 %)
    • Hiperplasi

ü  mungkin familial

ü  mungkin disertai dengan neoplasia endokrin multiple

ü  mungkin familial dan disertai dengan kalsium urin rendah (hiperkalsemi hipokalsiurik familial)

  • kira – kira 50% tanpa gejala

 

  1. Sekunder (sekresi PTH sesuai)
    • Gagal ginjal kronik
    • Malabsorbsi

– kelainan gastrointestinal

– kelainan hepatobilier

  • Penyebab lain dari hipokalsemi

 

 

  1. Tersier (sekresi PTH autonom ditambah dengan hiperparatiroid sekunder terdahulu)
    • Sangat jarang
    • Hipernefroma
    • Karsinoma sel skuamuosa paru

 

2.3.3 Tanda dan Gejala

Pasien mungkin tidak atau mengalami tanda – tanda dan gejala akibat terganggunya beberapa sistem organ.

  1. Gejala apatis
  2. keluhan mudah lelah
  3. kelemahan otot
  4. mual, muntah
  5. hipertensi dan aritmia jantung dapat terjadi; semua ini berkaitan dengan peningkatan kadar kalsium dalam darah
  6. Manifestasi psikologis dapat bervariasi mulai dari emosi yang mudah tersinggung dan neurosis hingga keadaan psikosis yang disebabkan oleh efek langsung kalsium pada otak serta sistem syaraf. Peningkatan kadar kalsium akan menurunkan potensial eksitasi jaringan syaraf dan otot.
  7. Gejala muskuloskeletal yang menyertai hiperparatiroid dapat terjadi akibat demineralisasi tulang atau tumor tulang, yang muncul berupa sel – sel raksasa benigna akibat pertumbuhan osteoklas yang berlebihan. Pasien dapat mengalami nyeri skeletal dan nyeri tekan, khususnya di daerah punggung dan persendian; nyeri ketika menyangga tubuh; fraktur patologik; deformitas; dan pemendekan badan. Kehilangan tulang yang berkaitan dengan hiperparatiroid merupakan faktor resiko terjadinya fraktur.
  8. Insidens ulukus peptikum dan pankeatis meningkat pada hiperparatiroid dan dapat menyebabkan terjadinya gejala gastrointestinal.

 

 

2.3.4 Patofisiologi

2.3.5 Klasifikasi

Hiperparatirod dapat berupa hiperparatiroid primer, sekunder, tertier dan intoksikasi paratiroid akut.

1. Hiperparatiroid primer

Kebanyakan pasien yang menderita hiperparatiroidisme primer mempunyai konsentrasi serum hormon paratiroid yang tinggi. Kebanyakan juga mempunyai konsentrasi serum kalsium yang tinggi, dan bahkan juga konsentrasi serum ion kalsium yang juga tinggi. Tes diagnostik yang paling penting untuk kelainan ini adalah menghitung serum hormon paratiroid dan ion kalsium. Penderita hiperparatiroid primer mengalami peningkatan resiko terjangkit batu ginjal sejak 10 tahun sebelum didiagnosis. Pengangkatan paratiroid mereduksi resiko batu ginjal hingga 8.3%, dan bahkan setelah 10 tahun sejak pengangkatan, resiko menjadi hilang. Gejala klinis hiperparatiroid primer dapat beraneka ragam dan dibagi dalam 4 kelompok, yaitu :

  1. Sebagai akibat hiperkalsemia yang gejalanya berupa anoreksia, nausea, muntah-muntah, konstipasi dan berat badan menurun, lekas lelah dan otot-otot lemah, miopati proksimal, polidipsi dan poliuria (diabetes insipidus like syndrome), perubahan mental (depresi, stupor, perubahan personalitas, koma, konvulsi).
  2. Sebagai akibat kalsifikasi visceral, kalsifikasi pada ginjal berupa kalkuli, nefrokalsinosis. Kalsifikasi ocular terjadi karena deposit kalsium pada konjungtiva dan kelopak mata, band keratopathy.
  3. Sebagai akibat peningkatan resorbsi tulang, nyeri tulang dan deformitas, fraktur patologis, osteoklastoma dan perubahan gambaran tulang pada foto x-ray.
  4. Sebagai akibat hipertensi, gagal ginjal, ulkus peptic, sindrom Zollinger Ellison, pankreatitis akut, pankreatitis menahun dan kalkuli, multiple adenomatosis syndrome, hiperurisemia, gout. Apabila ditemukan gambaran klinis, seperti tersebut di atas, maka harus curiga akan kemungkinan hiperpatiroidisme.

 

2. Hiperparatiroid sekunder

Hiperparatiroidisme sekunder adalah produksi hormon paratiroid yang berlebihan karena rangsangan produksi yang tidak normal. Secara khusus, kelainan ini berkitan dengan gagal ginjal akut. Penyebab umum lainnya karena kekurangan vitamin D. (Lawrence Kim, MD, 2005, section 5)

Hipersekresi hormon paratiroid pada hiperparatiroidisme sekunder sebagai respons terhadap penurunan kadar kalsium terionisasi didalam serum. (Clivge R. Taylor, 2005, 780)

Hiperparatiroidisme sekunder adalah hiperplasia kompensatorik keempat kelenjar yang bertujuan untuk mengoreksi penurunan kadar kalsium serum. Pada sebagian besar kasus, kadar kalsium serum dikoreksi ke nilai normal, tetapi tidak mengalami peningkatan. Kadang-kadang, terjadi overkoreksi dan kadar kalsium serum melebihi normal; pasien kemudian dapat mengalami gejala hiperkalsemia.

 

3. Hiperparatiroid tersier

Istilah hiperparatiroid tersier digunakan untuk menunjukkan perkembangan lanjut tipe sekunder, dimana terjadi autonomi kelenjar paratiroid. Seperti hiperparatiroid primer, maka bentuk tersier memerlukan tindakan pembedahan ekstirpasi adenoma, kecuali bila kegagalan ginjal sudah terlalu berat, maka dilakukan hemodialisis terlebih dahulu kemudian disusul ekstirpasi adenoma. Pemberian vitamin D kadang-kadang masih diperlukan untuk mencegah terjadinya hipokalsemia. Pengobatan penyakit hiperparatiroid tersier adalah dengan cara pengangkatan total kelenjar paratiroid disertai pencangkokan atau pengangkatan sebagian kelenjar paratiroid.

 

2.3.6 Manifestasi Klinis

Pasien mungkin tidak atau mengalami tanda – tanda dan gejala akibat terganggunya beberapa sistem organ. Gejala apatis, keluhan mudah lelah, kelemahan otot, mual, muntah, konstipasi, hipertensi dan aritmia jantung dapat terjadi; semua ini berkaitan dengan peningkatan kadar kalsium dalam darah. Manifestasi psikologis dapat bervariasi mulai dari emosi yang mudah tersinggung dan neurosis hingga keadaan psikosis yang disebabkan oleh efek langsung kalsium pada otak serta sistem syaraf. Peningkatan kadar kalsium akan menurunkan potensial eksitasi jaringan syaraf dan otot.

Gejala muskuloskeletal yang menyertai hiperparatiroid dapat terjadi akibat demineralisasi tulang atau tumor tulang, yang muncul berupa sel – sel raksasa benigna akibat pertumbuhan osteoklas yang berlebihan. Pasien dapat mengalami nyeri skeletal dan nyeri tekan, khususnya di daerah punggung dan persendian; nyeri ketika menyangga tubuh; fraktur patologik; deformitas; dan pemendekan badan. Kehilangan tulang yang berkaitan dengan hiperparatiroid merupakan faktor resiko terjadinya fraktur.

Insidens ulukus peptikum dan pankeatis meningkat pada hiperparatiroid dan dapat menyebabkan terjadinya gejala gastrointestinal.

 

2.3.6 Komplikasi

1) peningkatan ekskresi kalsium dan fosfor

2) Dehidrasi

3) batu ginjal

4) hiperkalsemia

5) Osteoklastik

6) osteitis fibrosa cystica

 

2.3.7 Pemeriksaan Penunjang

  1. Pemeriksaan darah yang mengukur kadar HT (T3 dan T4), TSH, dan TRH akan memastikan diagnosis keadaan dan lokalisasi masalah di tingkat susunan saraf pusat atau kelenjar tiroid.
  2. Bebas T4 (tiroksin)
  3. Bebas T3 (triiodotironin)
  4. Kalsium serum meninggi
  5. Fosfat serum rendah
  6. Fosfatase alkali meninggi
  7. Kalsium dan fosfat dalam urin bertambah
  8. Rontgen:
    1. Tulang menjadi tipis, ada dekalsifikasi
    2. Cystic-cystic dalam tulang
    3. Trabeculae di tulang

PA: osteoklas, osteoblast, dan jaringan fibreus bertambah

 

2.3.8 Penatalaksanaan

  1. Kausal: Tindakan bedah, ekstirpasi tumor.
  2. Simptomatis: Hiperkalsemia ringan (12 mgr % atau 3 mmol / L) dan Hidrasi dengan infuse
  3. Sodium chloride per os
  4. Dosis-dosis kecil diuretika (furosemide) Hiperkalsemia berat (> 15 mgr % atau 3,75 mmol / L):
  5. Koreksi (rehidrasi) cepat per infuse
  6. Forced diuresis dengan furosemide
  7. Plicamycin (mitramcin) 25 ug / kg BB sebagai bolus atau infus perlahn-lahan (1-2 kali seminggu)
  8. Fosfat secara intravena (kalau ada indikasi)
  9. Dialysis peritoneal, kalau ada insufisiensi ginjal.

 

2.3.9 Pencegahan komplikasi

  1. Minum banyak cairan, khususnya air putih. Meminum banyak cairan dapat mencegah pembentukan batu ginjal.
  2. Latihan. Ini salah satu cara terbaik untuk membentuk tulang kuatn dan memperlambat pengraphan tulang.
  3. Penuhi kebutuhan vitamin D. sebelum berusia 50 tahun, rekomendasi minimal vitamin D yang harus dipenuhi setiap hari adalah 200 International Units (IU). Setelah berusisa lebih dari 50 tahun, asupan vitamin D harus lebih tinggi, sekitar 400-800 IU perhari.
  4. Jangan merokok. Merokok dapat meningkatkan pengrapuhan tulang seiring meningkatnya masalah kesehatan, termasuk kanker.
  5.  Waspada terhadap kondisi yang dapat meningkatkan kadar kalsium. Kondisi tertentu seperti penykit gastrointestinal dapat menyebabkan kadar kalsium dalam darah meningkat

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

 

3.1 Pengkajian

3.1.1 Identitas

  1. Nama
  2. Umur   : Bisa terjadi pada semua kalang umur terutama pada wanita yang berumur 50 tahun keatas mempunyai resiko yang lebih besar 2 kali dari pria.
  3. Jenis kelamin   : Terjadi pada laki-laki dan perempuan
  4. Agama dan suku bangsa

 

3.1.2        Keluhan Utama

  1. Sakit kepala, kelemahan, lethargi, dan kelelahan otot
  2. Gangguan pencernaan seperti mual, muntah, anoreksia, obstipasi, dan nyeri lambung yang akan disertai penurunan berat badan.
  3. Depresi
  4. Nyeri tulang dan sendi

 

3.1.3        Riwaya penyakit sekarang

Pasien tampak lemah,biasanya adanya peningkatan ukuran kelenjar tiroid, anoreksia, obstipasi, dan nyeri lambung yang akan disertai penurunan berat badan,Depresi,Nyeri tulang dan sendi.

 

3.1.4        Riwayat penyakit dahulu

Tanyakan pada keluarga riwayat penyakit yang dialami pasien seperti: apakah pasien sebelumnya pernah mengalami penyakit yang sama dan apakah keluarga mempunyai penyakit yang sama.

 

3.1.5        Riwayat penyakit dalam keluarga

3.1.6        Riwayat trauma / fraktur tulang

3.1.7        Riwayat radiasi daerah leher dan kepala

 

3.2 Pemeriksaan fisik

  1. Breath (B1) :

Gejala: nafas pendek, dispnea nocturnal paroksimal, batuk dengan/tanpa sputum kental dan banyak.

Tanda: takipnea, dispnea, peningkatan frekensi/kedalaman (pernafasan Kussmaul)

  1. Blood (B2)

Gejala: Riwayat hipertensi lama atau berat, palpitasi,

Tanda: hipertensi (nadi kuat, edema jaringan, pitting pada kaki, telapak tangan), disritmia jantung, pucat, kecenderungan perdarahan.

  1. Brain (B3)

Gejala: penurunan daya ingat, depresi, gangguan tidur, koma.,

Tanda: gangguan status mental, penurunan tingkat kesadaran, ketidak mampuan konsentrasi, emosional tidak stabil

  1. Bladder (B4)

Gejala: penurunan frekuensi urine, obstruksi traktus urinarius, gagal fungsi ginjal (gagal tahap lanjut), abdomen kembung,diare, atau konstipasi.

Tanda: perubahan warna urine, oliguria, hiperkalsemia, Batu ginjal biasanya terdiri dari kalsium oksalat atau kalsium fosfat

  1. Bowel (B5)

Gejala: anoreksia, mual, muntah, penurunan berat badan.

Tanda: distensi abdomen, perubahan turgor kulit, kelainan lambung dan pankreas(tahap akhir), Ulkus peptikum

  1. Bone(B6)

Gejala: kelelahan ekstremitaas, kelemahan, malaise.

Tanda: penurunan rentang gerak, kehilangan tonus otot, kelemahan otot,atrofi otot

  1. Integritas ego

Gejala: faktor stress (finansial, hubungan)

Tanda: menolak, ansietas, takut, marah, mudah tersinggung, perubahan kepribadiann.

3.3 Pemeriksaan penunjang

  1. Pemeriksaan darah yang mengukur kadar HT (T3 dan T4), TSH, dan TRH akan memastikan diagnosis keadaan dan lokalisasi masalah di tingkat susunan saraf pusat atau kelenjar tiroid.
  2. Bebas T4 (tiroksin)
  3. Bebas T3 (triiodotironin)
  4. Kalsium serum meninggi
  5. Fosfat serum rendah
  6. Fosfatase alkali meninggi
  7. Kalsium dan fosfat dalam urin bertambah
  8. Rontgen:
    1. Tulang menjadi tipis, ada dekalsifikasi
    2. Cystic-cystic dalam tulang
    3. Trabeculae di tulang

PA: osteoklas, osteoblast, dan jaringan fibreus bertambah

 

3.4 Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan utama yang dapat dijumpai pada klien dengan hiperparatiroid antara lain :

  1. Risiko cedera berhubungan dengan demineralisasi tulang yang mengakibatkan fraktur patologi.
  2. Kerusakan eliminasi urine berhubungan dengan keterlibatan ginjal sekunder terhadap hiperkalsemia, dan hiperfosfatemia.
  3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh  berhubungan dengan anoreksia dan mual
  4. Konstipasi berhubungan dengan efek merugikan dari hiperkalsemia pada saluran gastrointestinal.

 

 

 

 

 

 

 

3.4  Perencanaan / Intervensi.

  1. Dx : Risiko terhadap cidera yang berhubungan dengan demineralisasi tulang yang mengakibatkan fraktur patologi.

Tujuan : Klien tidak akan menderita cidera, seperti yang ditunjukkan oleh tidak terdapatnya fraktur patologi.

Intervensi :

  1. Lindungi klien dari kecelakaan jatuh, karena klien rentan untuk mengalami fraktur patologis bahkan oleh benturan ringan sekalipun. Bila klien mengalami penurunan kesadaran pasanglah tirali tempat tidurnya.
  2. Hindarkan klien dari satu posisi yang menetap, ubah posisi klien dengan hati-hati.
  3. Bantu klien memenuhi kebutuhan sehari-hari selama terjadi kelemahan fisik.
  4. Atur aktivitas yang tidak melelahkan klien.
  5. Ajarkan cara melindungi diri dari trauma fisik seperti cara mengubah posisi tubuh, dan cara berjalan serta menghindari perubahan posisi yang tiba-tiba.
  6. Ajarkan klien cara menggunakan alat bantu berjalan bila dibutuhkan. Anjurkan klien agar berjalan secara perlahan-lahan

.

  1. Dx : Perubahan eliminasi urine yang berhubungan dengan keterlibatan ginjal sekunder terhadap hiperkalsemia dan hiperfosfatemia.

Tujuan : Klien akan kembali pada haluaran urine normal, seperti yang ditunjukkan oleh tidak terbentuknya batu dan haluaran urine 30 sampai 60 ml/jam.

Intervensi :

  1. 1.      Perbanyak asupan klien sampai 2500 ml cairan per hari. Dehidrasi merupakan hal yang berbahaya bagi klien dengan hiperparatiroidisme karena akan meningkatkan kadar kalisum serum dan memudahkan terbentuknya batu ginjal.
  2. 2.      Berikan sari buahn canbery atau prune untuk membantu agar urine lebih bersifat asam. Keasaman urine yang tinggi membantu mencegah pembentukkan batu ginjal, karena kalsium lebih mudah larut dalam urine yang asam ketimbang urine yang basa.

 

 

  1. 3.      Dx : Perubahan nutrisi yang berubahan dengan anorexia dan mual.

Tujuan : Klien akan mendapat masukan makanan yang mencukupi, seperti yang dibuktikan oleh tidak adanya mual dan kembali pada atau dapat mempertahankan berat badan ideal.

Intervensi :

  1. Berikan dorongan pada klien untuk mengkonsumsi diet rendah kalsium untuk memperbaiki hiperkalsemia.
  2. Jelaskan pada klien bahwa tidak mengkonsumsi susu dan produk susu dapat menghilangkan sebagian manifestasi gastrointestinal yang tidak menyenangkan.
  3. Bantu klien untuk mengembangkan diet yang mencakup tinggi kalori tanpa produk yang mengandung susu.
  4. Rujuk klien ke ahli gizi untuk membantu perencanaan diet klien.

 

  1. 4.      Dx : Konstipasi yang berhubungan dengan efek merugikan dari hiperparatiroidisme pada saluran gastrointestinal.

Tujuan : Klien akan mempertahankan BAB normal, seperti pada yang dibuktikan oleh BAB setiap hari (sesuai dengan kebiasaan klien).

Intervensi :

  1. Upayakan tindakan yang dapat mencegah konstipasi dan pengerasan fekal yang diakibatkan oleh hiperkalsemia.
  2. Bantu klien untuk tetap dapat aktif sesuai dengan kondisi yang memungkinkan.
  3. Tingkatkan asupan cairan dan serat dalam diet. Klien harus minum sedikitnya enam sampai delapan gelas per hari kecuali bila ada kontra indikasi.
  4. Jika konstipasi menetak meski sudah dilakukan tindakan, mintakan pada dokter pelunak feses atau laksatif.

 

 

 

 

 

 

3.5 Evaluasi

Dx 1 : Risiko cedera berhubungan dengan demineralisasi tulang yang mengakibatkan fraktur patologi.

Kriteria hasil :                                                                                     

  1. Pantau faktor resiko perilaku pribadi dan lingkungan                                   
  2. Mengembangkan dan mengikuti strategi pengendalian resiko                      
  3. Mempersiapkan lingkungan yang aman                                                         
  4. Mengidentifikasikan yang dapat meningkatkan reiko cedera            
  5. Menghindari cedera fisik                                                                               

DX 2 : Kerusakan eliminasi urine berhubungan dengan keterlibatan ginjal sekunder terhadap hiperkalsemia, dan hiperfosfatemia.

Kriteria hasil:                                                                                      

  1. Mampu ke toilet secara mandiri                                                                     
  2. Tidak ada infeksi saluran kemih                                                                     
  3. Pola pengeluaran urine yang dapat diperkirakan                                           
  4. Eliminasi urine tidak terganggu                                                                     

DX 3 :  Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh  berhubungan dengan anoreksia dan mual

Kriteria hasil :                                                                                     

  1. Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan.                            
  2. Berat badan ideal seuai dengan tinggi badan.                                            
  3. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi.                                              
  4. Tidak ada tanda – tanda malnutrisi.                                                           
  5. Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti.                         

Dx 4 : Konstipasi berhubungan dengan efek merugikan dari hiperkalsemia pada saluran gastrointestinal.

Kriteria hasil :                                                                                     

  1. Mengeluarkan feses tanpa bantuan                                                 
  2. Mengkonsumsi cairan dan serat yang adekuat                                           
  3. Latihan dalam jumlah yang adekuat                                                           
  4. Melaporkan keluarnya feses dengan berkurangnya nyeri.              

 

 

 

BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

 

1.1  SIMPULAN

Hormon paratiroid dapat mempengaruhi banyak sistem didalam tubuh manusia. Efek utama mengatur keseimbangan kalsium dan fosfat dalam tubuh. Kelainan hormon paratiroid banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti tumor jinak (adenoma soliter), paratiroid carsinoma, dan hiperplasia pada sel kelenjar paratiroid yang dapat mengakibatkan terjadinya hiperparatiroidisme. Dikatakan hiperparatiroidisme apabila kelenjar paratiroid memproduksi hormon paratiroid lebih banyak dari biasanya. Sedangkan hipoparatiroidisme sendiri merupakan kebalikan dari hiperparatiroidisme.

Adapun klasifikasi dari hiperparatiroid yaitu hiperparatiroid primer, hiperparatiroid sekunder, dan hiperparatiroid tersier. Perbedaan dari ketiga klasifikasi tersebut yakni pada hasil laboratoriumnya. Pada hiperparatiroid primer kadar kalsium meningkat/hiperkalsemia dan kadar PTH juga menigkat, sedangkan hiperparatiroidisme sekunder terlihat adanya hipersekresi hormon paratiroid sebagai respon terhadap penurunan kadar kalsium yang terionisasi dalam darah. Keadaan hipokalsemia yang lama akan menyebabkan perubahan pada kelenjar paratiroid menjadi otonom dan berkembang menjadi keadaan sepertri hiperparatiroidisme primer, dan pada keadaan ini disebut hiperparatiroidisme tersier.

 

1.2  SARAN

Melihat dari kasus kelainan pada kelenjar paratiroid, maka diharapkan para tenaga medis dan perawat harus lebih profesional dan berpengalaman dalam mengkaji seluruh sistem metabolisme yang mungkin terganggu karena adanya kelainan pada kelenjar paratiroid. Karena penanganan dan pengkajian yang tepat akan menentukan penatalaksanaan pengobatan yang cepat dan tepat pula pada kelainan kelenjar paratiroid.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Bare & Suzanne, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume 2, (Edisi 8), EGC, Jakarta
  • Carpenito, 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, (Edisi 2), EGC,
  • Jakarta
  • Corwin,. J. Elizabeth, 2001, Patofisiologi, EGC, Jakarta
  • Doenges, E. Marilynn dan MF. Moorhouse, 2001, Rencana Asuhan Keperawatan,
  • (Edisi III), EGC, Jakarta.
  • FKUI, 1979, Patologi, FKUI, Jakarta
  • Doengoes, Marylin, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta : EGC
  • http://www.endocrineweb.com/; diakses tanggal 20 April 2009
  • Akbar, faruq. 2009. Penyakit tiroid dan paratiroid. http://www.farospots.blogspots.com; diakses tanggal 20 April 2009

ASKEP Plasenta previa

  1. 1.      PENGERTIAN

Plasenta previa yaitu merupakan plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (Ostium uteri internum)

Klasifikasi plasenta previa berdasarkan terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu :

ü  Plasenta Previa Totalis : bila seluruh pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta

ü  Plasenta Previa lateralis : bila hanya sebagian pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta.

ü  Plasenta Previa Marginalis : bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan jalan lahir.

ü  Plasenta Previa Letak Rendah : bila plasenta berada 3-4 cm diatas pinggir pembukaan jalan lahir.

 

  1. 2.      GAMBARAN KLINIS
    1. Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak perdarahan yang terjadi pertama kali, biasanya tidak banyak dan tidak berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari sebelumnya. Perdarahan pertama sering terjadi pada triwulan ketiga.
    2. Pasien yang datang dengan perdarahan karena plasenta previa tidak mengeluh adanya rasa sakit.
    3. Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang
    4. Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan tidak jarang terjadi letak janin letak lintang atau letak sungsang.
    5. Janin mungkin masih hidup atau sudah mati, tergantung banyaknya perdarahan

 

  1. 3.      ETIOLOGI

Menurut Manuaba (2003), penyebab terjadinya plasenta previa diantaranya adalah mencakup :

  1. Perdarahan (hemorrhaging)
  2. Usia lebih dari 35 tahun
  3. Multiparitas
  4. Pengobatan infertilitas
  5. Multiple gestation
  6. Erythroblastosis
  7. Riwayat operasi/pembedahan uterus sebelumnya
  8. Keguguran berulang
  9. Status sosial ekonomi yang rendah
  10. Jarak antar kehamilan yang pendek
  11. Merokok

 

Menurut Hanafiah (2004) klasifikasi plasenta previa dapat dibedakan menjadi 4 derajat yaitu :

  1. Total bila menutup seluruh serviks
  2. Partial bila menutup sebagian serviks
  3. Lateral bila menutup 75% (bila hanya sebagian pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta).
  4. Marginal bila menutup 30% (bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan jalan lahir).

 

  1. 4.      PATOFISIOLOGI

Terdapat perbedaan pada vagina pada usia kehamilan 20 minggu, timbul secara spontan tanpa melakukan aktivitas atau akibat trauma abdomen, darah berwarna merah segar, disertai atau tanpa disertai rasa nyeri akibat kontraksi uterus. Perlu juga dicari beberapa faktor predisposisi seperti riwayat solusio plasentae, perokok, hipertensi, multiparitas dan kehamilan ganda.

 

Plasenta Menempel Di Segmen Bawah/Plasenta Lepas Dari Dinding Uterus

 

Perdarahan

 

 

  1. 5.      MANIFESTASI KLINIS

Anamnesis

Perjalanan jalan lahir berwarna merah segar tanpa rasa nyeri, tanpa sebab, terutama pada multigravida pada kehamilan setelah 20 minggu.

Pemeriksaan Fisik

a)      Pemeriksaan luar, bagian terbawah janin  biasanya belum masuk pintu atas panggul, ada kelainan letak janin.

b)      Pemeriksaan inspekula, perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum.

 

  1. 6.      KOMPLIKASI

a)      Prolaps tali pusat

b)      Prolaps Plasenta

c)      Plasenta Melekat

d)     Robekan-robekan jalan lahir

e)      Perdarahan post partum

f)       Infeksi

g)      Bayi Prematuritas atau kelahiran mati

 

  1. 7.      PEMERIKSAAN PENUNJANG

a)      USG : Biometri janin, indeks cairan amnion, kelainan kongenital, letak dan derajat maturasi plasenta. Lokasi plasenta sangat penting karena hal ini berkaitan dengan teknik operasi yang akan dilakukan.

b)      Kardiotokografi (KTG) : dilakukan pada kehamilan > 28 Minggu

c)      Laboraturium : darah perifer lengkap. Bila dilakukan PDMO atau operasi, perlu diperiksa faktor pembekuan darah, waktu perdarahan dan gula darah sewaktu pemeriksaan lainnya dilakukan atas indikasi medis.

 

  1. 8.      PENATALAKSANAAN

Ketika dirawat di rumah sakit tanpa periksa dalam. Bila pasien dalam keadaan syok karena pendarahan yang banyak, harus segera diperbaiki keadaan umumnya dengan pemberian infus atau tranfusi darah. Selanjutnya penanganan plasenta previa bergantung kepada :

ü  Keadaan umum pasien, kadar hb.

ü  Jumlah perdarahan yang terjadi.

ü  Umur kehamilan/taksiran BB janin.

ü  Jenis plasenta previa.

ü  Paritas clan kemajuan persalinan.

Penanganan Ekspektif

Kriteria :

– Umur kehamilan kurang dari 37 minggu.

– Perdarahan sedikit

– Belum ada tanda-tanda persalinan

– Keadaan umum baik, kadar Hb 8 gr% atau lebih.

Rencana Penanganan :

1. Istirahat baring mutlak.

2. Infus D 5% dan elektrolit

3. Spasmolitik. tokolitik, plasentotrofik, roboransia.

4. Periksa Hb, HCT, COT, golongan darah.

5. Pemeriksaan USG.

6. Awasi perdarahan terus-menerus, tekanan darah, nadi dan denyut jantung janin.

7. Apabila ada tanda-tanda plasenta previa tergantung keadaan pasien ditunggu sampai kehamilan 37 minggu selanjutnya penanganan secara aktif.

 

Penanganan aktif

Kriteria :

• umur kehamilan >/ = 37 minggu, BB janin >/ = 2500 gram.

• Perdarahan banyak 500 cc atau lebih.

• Ada tanda-tanda persalinan.

• Keadaan umum pasien tidak baik ibu anemis Hb < 8 gr%.

Untuk menentukan tindakan selanjutnya SC atau partus pervaginum, dilakukan pemeriksaan dalam kamar operasi, infusi transfusi darah terpasang.

Indikasi Seksio Sesarea :

1. Plasenta previa totalis.

2. Plasenta previa pada primigravida.

3. Plasenta previa janin letak lintang atau letak sungsang

4. Anak berharga dan fetal distres

5. Plasenta previa lateralis jika :

• Pembukaan masih kecil dan perdarahan banyak.

• Sebagian besar OUI ditutupi plasenta.

• Plasenta terletak di sebelah belakang (posterior).

  1. Profause bleeding, perdarahan sangat banyak dan mengalir dengan cepat.

 

  1. 9.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
  1. USG (Ultrasonographi)

Dapat mengungkapkan posisi rendah berbaring placnta tapi apakah placenta melapisi cervik tidak biasa diungkapkan

  1. Sinar X

Menampakkan kepadatan jaringan lembut untuk menampakkan bagian-bagian tubuh janin.

  1. Pemeriksaan laboratorium

Hemoglobin dan hematokrit menurun. Faktor pembekuan pada umumnya di dalam batas normal.

  1. Pengkajian vaginal

Pengkajian ini akan mendiagnosa placenta previa tapi seharusnya ditunda jika memungkinkan hingga kelangsungan hidup tercapai (lebih baik sesuadah 34 minggu). Pemeriksaan ini disebut pula prosedur susunan ganda (double setup procedure). Double setup adalah pemeriksaan steril pada vagina yang dilakukan di ruang operasi dengan kesiapan staf dan alat untuk efek kelahiran secara cesar.

  1. Isotop Scanning

Atau lokasi penempatan placenta.

  1. Amniocentesis

Jika 35 – 36 minggu kehamilan tercapai, panduan ultrasound pada amniocentesis untuk menaksir kematangan paru-paru (rasio lecithin / spingomyelin [LS] atau kehadiran phosphatidygliserol) yang dijamin. Kelahiran segera dengan operasi direkomendasikan jika paru-paru fetal sudah mature.

PROSES KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PLASENTA PREVIA

 

Pengkajian Data

Pengkajian merupakan dasar proses keperawatan , di perlukan pengkajian yang cemat untuk masalah klien agar dapat memberi arah kepada tindakan keperawatan.informasi akan menentukan kebutuhan dan masalah kesehatan keperawatan yang meliputi kebutuhan, fisik, psikososial dan lingkungan. Metode pengumpulan data meliputi  pengumpulan data, klasifikasi data, analisa data, rumusan diagnosa keperawatan. Data yang perlu dikumpulkan pada klien dengan anemia adalah sebagai berikut :

 

  1. Pengumpulan data

–          Identifikasi klien : nama klien, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku atau bangsa, pendididkan, pekerjaan, dan alamat.

  1. Identitas Penanggung Jawab Pasien
  2. Keluhan utama dan riwayat kesehatan masa lalu
  3. Keluhan utama

ü  Pasien mengatakan perdarahan yang disertai nyeri.

ü  Rahim keras seperti papan dan nyeri tekan karena isi rahim bertambah dengan dorongan yang berkumpul dibelakang plasenta, sehingga rahim tegang.

ü  Perdarahan yang berulang-ulang.

  1. Riwayat penyakit sekarang

Darah terlihat merah kehitaman karena membentuk gumpalan darh, darah yang keluar sedikit banyak, terus menerus. Akibat dari perdarahan pasien lemas dan pucat. Sebelumnya biasanya pasien pernah mengalami hypertensi esensialis atau pre eklampsi, tali pusat pendek trauma, uterus yang sangat mengecil (hydroamnion gameli) dll.

  1. Riwayat penyakit masa lalu

Kemungkinan pasien pernah menderita penyakit hipertensi, tali pusat pendek, trauma, uterus / rahim feulidli.

  1. Riwayat psikologis

Pasien cemas karena mengalami perdarahan disertai nyeri, serta tidak mengetahui asal dan penyebabnya.

  1. Pemeriksaan fisik
  2. Keadaan umum
  • Kesadaran : composmetis s/d coma
  • Postur tubuh : biasanya gemuk
  • Cara berjalan : biasanya lambat dan tergesa-gesa
  • Raut wajah : biasanya pucat
  1. Tanda-tanda vital
  • Tensi : normal sampai turun (syok)
  • Nadi : normal sampai meningkat (> 90x/menit)
  • Suhu : normal / meningkat (> 37o c)
  • RR : normal / meningkat (> 24x/menit)

 

Pemeriksaan Fisik

  1. Anamnesa plasenta previa
    1. Terjadi perdarahan pada kehamilan sekitar 28 minggu.
    2. Sift perdarahan :
  • Tanpa rasa sakit terjadi secara tiba-tiba
  • Tanpa sebab yang jelas
  • Dapat berulang
  1. Perdarahan menimbulkan penyulit pada ibu atau janin dalam rahim
  2. Pada inspeksi dijumpai
    1. Perdarahan pervagina encer sampai menggumpal
    2. Pada perdarahan yang banyak ibu tanpa anemis
    3. Pemeriksaan fisik ibu
      1. Dijumpai keadaan bervariasi dari keadaan normal sampai syok
      2. Kesadaran penderita bervariasi dari kesadaran baik sampai koma.
      3. Pada pemeriksaan dapat dijumpai  :
  • Tekanan darah, nadi dan pernafasan dalam batas normal
  • Tekanan darah tuirun, nadi dan pernafasan meningkat
  • Tanpa anemis
  1. Pemeriksaan khusus
    1. Pemeriksaan palpasi abdomen
  • Janin belum cukup bulan, tinggi fundus uteri sesuai dengan umur hamil.
  • Karena plasenta di segmen bahwa rahim, maka dapat dijumpai kelainan letak janin dalam rahim dan bagian terendah masih tinggi.

 

 

  1. Pemeriksaan denyut jantung janin
  • Bervariasi dari normal sampai ke ujung asfiksia dan kematian dalam rahim.
  1. Pemeriksaan dalam dilakukan diats meja operasi dan siap untuk segera mengambil tindakan, Tujuan pemeriksaan dalam untuk :
  • Menegakkan diagnosa pasti
  • Mempersiapkan tindakan untuk melakukan operasi persalinan atau hanya memecahkan ketuban.
  • Hasil pemeriksaan dalam teraba plasenta sekitar osteum, uteri, internum.

 

 

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri b.d terputusnya kontinuitas jaringan

2. Resti infeksi b.d insisi luka operasi

3. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d syok hipovolemik

4. Resti fetal distress b.d terlepasnya placenta

5. Ansietas b.d kurangnya pengetahuan terhadap tindakan yang akan dilakukan

6. Resti konstipasi b.d penurunan peristaltik usus

7. Perubahan pola peran b.d adanya anggota keluarga baru

 

INTERVENSI KEPERAWATAN

  1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan

Tujuan : Rasa nyeri pasien berkurang atau hilang

Kriteria Hasil :

  • Klien tidak gelisah,
  • skala nyeri 1 – 2, tanda vital normal.

Intervensi :

  1. Kaji karakristik, skala, lokasi, intensitas, dan frekuensi nyeri.

Rasional : untuk mengukur tingkatan nyeri dan untuk menindak lanjuti asuhan keperawatan

  1. Monitor tanda vital pasien.

Rasional : untuk mengetahui tanda-tanda adanya infeksi

  1. Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi.

Rasional : untuk mengurangi rasa nyeri klien dengan menarik nafas saat nyeri muncul

  1. Berikan lingkungan tenang dan nyaman

Rasional : menurunkan stres dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat.

  1. Kolaborasi dengan dokter pemberian analgesik

Rasional : untuk mengurangi rasa nyeri.

2. Resiko tinggi infeksi berhubungandengan insisi luka operasi

Tujuan : Tidak terjadi infeksi.

Kriteria Hasil:

  • Limfosit dalam batas normal,
  • tanda vital normal dan tidak ditemukan tanda infeksi.

Intervensi :

  1. Kaji lokasi dan luas luka.

Rasional : untuk mengetahui lokasi luka yang muncul pada klien

  1. Pantau jika terdapat tanda infeksi (rubor, dolor, kolor, dan perubahan fungsi).

Rasional : untu mengetahui lokasi insisi luka

  1. Pantau tanda vital klien

Rasional : mengetahui keadaan klien dan memudahkan tindakan selanjutnya

  1. Kolaborasi pemberian antibiotik.

Rasional : untuk menentukan terapi yang sesuai pada klien.

  1. Ganti balut dengan prinsip steril.

Rasional : mencegah terjadinya infeksi pada luka

3.Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan terhadap tindakan yang akan dilakukan

Tujuan : Ansietas berkurang dan dapat diatasi

Intervensi :

  1. Jelaskan prosedur, intervensi dan tindakan yang dilakukan pada pasien.

Rasional :membantu dalam memahami kebutuhan terhadap prosedur ini.

  1. Pertahankan komunikasi terbuka, diskusikan kemungkinan efek samping dan hasil, pertahankan sikap optimis.

Rasional : informasi yang tepat akan mengurangi cemas pada klien.

  1. Anjurkan pasien untuk mengungkapkan perasaannya

Rasional : klien dan keluarganya akan mersa tenang dan dapat mengurangi rasa cemas.

  1. Libatkan pasangan / keluarga untuk mendampingi pasien.

Rasional : klien akan merasa tenang.

  1. Kolaborasi dengan dokter pemberian sedatif bila tindakan lain tidak berhasil.

Rasional : sebagai langkah tindakan yang selanjutnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Mitaya.2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika

Mansjoer, Arif. 2001. KapitaSelekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.

Marilynn E. Doenges & Mary Frances Moorhouse, 2001, Rencana Perawatan Maternal/Bayi, edisi kedua. EGC. Jakarta.

Sarwono, 1997, Ilmu Kebidanan. Yayasan bina pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta

Bagus,Ida. Ilmu Kebidanan, Penyakit kandungan & Keluarga Berencana untuk pendidika kebidanan.EGC : Jakarta

Mochtar, Rustam.Sinopsis Ostetri.Jakarta. EGC

http://www.google.com