Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2012

  1. 1.      PENGERTIAN

Plasenta previa yaitu merupakan plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (Ostium uteri internum)

Klasifikasi plasenta previa berdasarkan terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu :

ü  Plasenta Previa Totalis : bila seluruh pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta

ü  Plasenta Previa lateralis : bila hanya sebagian pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta.

ü  Plasenta Previa Marginalis : bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan jalan lahir.

ü  Plasenta Previa Letak Rendah : bila plasenta berada 3-4 cm diatas pinggir pembukaan jalan lahir.

 

  1. 2.      GAMBARAN KLINIS
    1. Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak perdarahan yang terjadi pertama kali, biasanya tidak banyak dan tidak berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari sebelumnya. Perdarahan pertama sering terjadi pada triwulan ketiga.
    2. Pasien yang datang dengan perdarahan karena plasenta previa tidak mengeluh adanya rasa sakit.
    3. Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang
    4. Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan tidak jarang terjadi letak janin letak lintang atau letak sungsang.
    5. Janin mungkin masih hidup atau sudah mati, tergantung banyaknya perdarahan

 

  1. 3.      ETIOLOGI

Menurut Manuaba (2003), penyebab terjadinya plasenta previa diantaranya adalah mencakup :

  1. Perdarahan (hemorrhaging)
  2. Usia lebih dari 35 tahun
  3. Multiparitas
  4. Pengobatan infertilitas
  5. Multiple gestation
  6. Erythroblastosis
  7. Riwayat operasi/pembedahan uterus sebelumnya
  8. Keguguran berulang
  9. Status sosial ekonomi yang rendah
  10. Jarak antar kehamilan yang pendek
  11. Merokok

 

Menurut Hanafiah (2004) klasifikasi plasenta previa dapat dibedakan menjadi 4 derajat yaitu :

  1. Total bila menutup seluruh serviks
  2. Partial bila menutup sebagian serviks
  3. Lateral bila menutup 75% (bila hanya sebagian pembukaan jalan lahir tertutup oleh plasenta).
  4. Marginal bila menutup 30% (bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan jalan lahir).

 

  1. 4.      PATOFISIOLOGI

Terdapat perbedaan pada vagina pada usia kehamilan 20 minggu, timbul secara spontan tanpa melakukan aktivitas atau akibat trauma abdomen, darah berwarna merah segar, disertai atau tanpa disertai rasa nyeri akibat kontraksi uterus. Perlu juga dicari beberapa faktor predisposisi seperti riwayat solusio plasentae, perokok, hipertensi, multiparitas dan kehamilan ganda.

 

Plasenta Menempel Di Segmen Bawah/Plasenta Lepas Dari Dinding Uterus

 

Perdarahan

 

 

  1. 5.      MANIFESTASI KLINIS

Anamnesis

Perjalanan jalan lahir berwarna merah segar tanpa rasa nyeri, tanpa sebab, terutama pada multigravida pada kehamilan setelah 20 minggu.

Pemeriksaan Fisik

a)      Pemeriksaan luar, bagian terbawah janin  biasanya belum masuk pintu atas panggul, ada kelainan letak janin.

b)      Pemeriksaan inspekula, perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum.

 

  1. 6.      KOMPLIKASI

a)      Prolaps tali pusat

b)      Prolaps Plasenta

c)      Plasenta Melekat

d)     Robekan-robekan jalan lahir

e)      Perdarahan post partum

f)       Infeksi

g)      Bayi Prematuritas atau kelahiran mati

 

  1. 7.      PEMERIKSAAN PENUNJANG

a)      USG : Biometri janin, indeks cairan amnion, kelainan kongenital, letak dan derajat maturasi plasenta. Lokasi plasenta sangat penting karena hal ini berkaitan dengan teknik operasi yang akan dilakukan.

b)      Kardiotokografi (KTG) : dilakukan pada kehamilan > 28 Minggu

c)      Laboraturium : darah perifer lengkap. Bila dilakukan PDMO atau operasi, perlu diperiksa faktor pembekuan darah, waktu perdarahan dan gula darah sewaktu pemeriksaan lainnya dilakukan atas indikasi medis.

 

  1. 8.      PENATALAKSANAAN

Ketika dirawat di rumah sakit tanpa periksa dalam. Bila pasien dalam keadaan syok karena pendarahan yang banyak, harus segera diperbaiki keadaan umumnya dengan pemberian infus atau tranfusi darah. Selanjutnya penanganan plasenta previa bergantung kepada :

ü  Keadaan umum pasien, kadar hb.

ü  Jumlah perdarahan yang terjadi.

ü  Umur kehamilan/taksiran BB janin.

ü  Jenis plasenta previa.

ü  Paritas clan kemajuan persalinan.

Penanganan Ekspektif

Kriteria :

– Umur kehamilan kurang dari 37 minggu.

– Perdarahan sedikit

– Belum ada tanda-tanda persalinan

– Keadaan umum baik, kadar Hb 8 gr% atau lebih.

Rencana Penanganan :

1. Istirahat baring mutlak.

2. Infus D 5% dan elektrolit

3. Spasmolitik. tokolitik, plasentotrofik, roboransia.

4. Periksa Hb, HCT, COT, golongan darah.

5. Pemeriksaan USG.

6. Awasi perdarahan terus-menerus, tekanan darah, nadi dan denyut jantung janin.

7. Apabila ada tanda-tanda plasenta previa tergantung keadaan pasien ditunggu sampai kehamilan 37 minggu selanjutnya penanganan secara aktif.

 

Penanganan aktif

Kriteria :

• umur kehamilan >/ = 37 minggu, BB janin >/ = 2500 gram.

• Perdarahan banyak 500 cc atau lebih.

• Ada tanda-tanda persalinan.

• Keadaan umum pasien tidak baik ibu anemis Hb < 8 gr%.

Untuk menentukan tindakan selanjutnya SC atau partus pervaginum, dilakukan pemeriksaan dalam kamar operasi, infusi transfusi darah terpasang.

Indikasi Seksio Sesarea :

1. Plasenta previa totalis.

2. Plasenta previa pada primigravida.

3. Plasenta previa janin letak lintang atau letak sungsang

4. Anak berharga dan fetal distres

5. Plasenta previa lateralis jika :

• Pembukaan masih kecil dan perdarahan banyak.

• Sebagian besar OUI ditutupi plasenta.

• Plasenta terletak di sebelah belakang (posterior).

  1. Profause bleeding, perdarahan sangat banyak dan mengalir dengan cepat.

 

  1. 9.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
  1. USG (Ultrasonographi)

Dapat mengungkapkan posisi rendah berbaring placnta tapi apakah placenta melapisi cervik tidak biasa diungkapkan

  1. Sinar X

Menampakkan kepadatan jaringan lembut untuk menampakkan bagian-bagian tubuh janin.

  1. Pemeriksaan laboratorium

Hemoglobin dan hematokrit menurun. Faktor pembekuan pada umumnya di dalam batas normal.

  1. Pengkajian vaginal

Pengkajian ini akan mendiagnosa placenta previa tapi seharusnya ditunda jika memungkinkan hingga kelangsungan hidup tercapai (lebih baik sesuadah 34 minggu). Pemeriksaan ini disebut pula prosedur susunan ganda (double setup procedure). Double setup adalah pemeriksaan steril pada vagina yang dilakukan di ruang operasi dengan kesiapan staf dan alat untuk efek kelahiran secara cesar.

  1. Isotop Scanning

Atau lokasi penempatan placenta.

  1. Amniocentesis

Jika 35 – 36 minggu kehamilan tercapai, panduan ultrasound pada amniocentesis untuk menaksir kematangan paru-paru (rasio lecithin / spingomyelin [LS] atau kehadiran phosphatidygliserol) yang dijamin. Kelahiran segera dengan operasi direkomendasikan jika paru-paru fetal sudah mature.

PROSES KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PLASENTA PREVIA

 

Pengkajian Data

Pengkajian merupakan dasar proses keperawatan , di perlukan pengkajian yang cemat untuk masalah klien agar dapat memberi arah kepada tindakan keperawatan.informasi akan menentukan kebutuhan dan masalah kesehatan keperawatan yang meliputi kebutuhan, fisik, psikososial dan lingkungan. Metode pengumpulan data meliputi  pengumpulan data, klasifikasi data, analisa data, rumusan diagnosa keperawatan. Data yang perlu dikumpulkan pada klien dengan anemia adalah sebagai berikut :

 

  1. Pengumpulan data

–          Identifikasi klien : nama klien, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku atau bangsa, pendididkan, pekerjaan, dan alamat.

  1. Identitas Penanggung Jawab Pasien
  2. Keluhan utama dan riwayat kesehatan masa lalu
  3. Keluhan utama

ü  Pasien mengatakan perdarahan yang disertai nyeri.

ü  Rahim keras seperti papan dan nyeri tekan karena isi rahim bertambah dengan dorongan yang berkumpul dibelakang plasenta, sehingga rahim tegang.

ü  Perdarahan yang berulang-ulang.

  1. Riwayat penyakit sekarang

Darah terlihat merah kehitaman karena membentuk gumpalan darh, darah yang keluar sedikit banyak, terus menerus. Akibat dari perdarahan pasien lemas dan pucat. Sebelumnya biasanya pasien pernah mengalami hypertensi esensialis atau pre eklampsi, tali pusat pendek trauma, uterus yang sangat mengecil (hydroamnion gameli) dll.

  1. Riwayat penyakit masa lalu

Kemungkinan pasien pernah menderita penyakit hipertensi, tali pusat pendek, trauma, uterus / rahim feulidli.

  1. Riwayat psikologis

Pasien cemas karena mengalami perdarahan disertai nyeri, serta tidak mengetahui asal dan penyebabnya.

  1. Pemeriksaan fisik
  2. Keadaan umum
  • Kesadaran : composmetis s/d coma
  • Postur tubuh : biasanya gemuk
  • Cara berjalan : biasanya lambat dan tergesa-gesa
  • Raut wajah : biasanya pucat
  1. Tanda-tanda vital
  • Tensi : normal sampai turun (syok)
  • Nadi : normal sampai meningkat (> 90x/menit)
  • Suhu : normal / meningkat (> 37o c)
  • RR : normal / meningkat (> 24x/menit)

 

Pemeriksaan Fisik

  1. Anamnesa plasenta previa
    1. Terjadi perdarahan pada kehamilan sekitar 28 minggu.
    2. Sift perdarahan :
  • Tanpa rasa sakit terjadi secara tiba-tiba
  • Tanpa sebab yang jelas
  • Dapat berulang
  1. Perdarahan menimbulkan penyulit pada ibu atau janin dalam rahim
  2. Pada inspeksi dijumpai
    1. Perdarahan pervagina encer sampai menggumpal
    2. Pada perdarahan yang banyak ibu tanpa anemis
    3. Pemeriksaan fisik ibu
      1. Dijumpai keadaan bervariasi dari keadaan normal sampai syok
      2. Kesadaran penderita bervariasi dari kesadaran baik sampai koma.
      3. Pada pemeriksaan dapat dijumpai  :
  • Tekanan darah, nadi dan pernafasan dalam batas normal
  • Tekanan darah tuirun, nadi dan pernafasan meningkat
  • Tanpa anemis
  1. Pemeriksaan khusus
    1. Pemeriksaan palpasi abdomen
  • Janin belum cukup bulan, tinggi fundus uteri sesuai dengan umur hamil.
  • Karena plasenta di segmen bahwa rahim, maka dapat dijumpai kelainan letak janin dalam rahim dan bagian terendah masih tinggi.

 

 

  1. Pemeriksaan denyut jantung janin
  • Bervariasi dari normal sampai ke ujung asfiksia dan kematian dalam rahim.
  1. Pemeriksaan dalam dilakukan diats meja operasi dan siap untuk segera mengambil tindakan, Tujuan pemeriksaan dalam untuk :
  • Menegakkan diagnosa pasti
  • Mempersiapkan tindakan untuk melakukan operasi persalinan atau hanya memecahkan ketuban.
  • Hasil pemeriksaan dalam teraba plasenta sekitar osteum, uteri, internum.

 

 

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri b.d terputusnya kontinuitas jaringan

2. Resti infeksi b.d insisi luka operasi

3. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d syok hipovolemik

4. Resti fetal distress b.d terlepasnya placenta

5. Ansietas b.d kurangnya pengetahuan terhadap tindakan yang akan dilakukan

6. Resti konstipasi b.d penurunan peristaltik usus

7. Perubahan pola peran b.d adanya anggota keluarga baru

 

INTERVENSI KEPERAWATAN

  1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan

Tujuan : Rasa nyeri pasien berkurang atau hilang

Kriteria Hasil :

  • Klien tidak gelisah,
  • skala nyeri 1 – 2, tanda vital normal.

Intervensi :

  1. Kaji karakristik, skala, lokasi, intensitas, dan frekuensi nyeri.

Rasional : untuk mengukur tingkatan nyeri dan untuk menindak lanjuti asuhan keperawatan

  1. Monitor tanda vital pasien.

Rasional : untuk mengetahui tanda-tanda adanya infeksi

  1. Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi.

Rasional : untuk mengurangi rasa nyeri klien dengan menarik nafas saat nyeri muncul

  1. Berikan lingkungan tenang dan nyaman

Rasional : menurunkan stres dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat.

  1. Kolaborasi dengan dokter pemberian analgesik

Rasional : untuk mengurangi rasa nyeri.

2. Resiko tinggi infeksi berhubungandengan insisi luka operasi

Tujuan : Tidak terjadi infeksi.

Kriteria Hasil:

  • Limfosit dalam batas normal,
  • tanda vital normal dan tidak ditemukan tanda infeksi.

Intervensi :

  1. Kaji lokasi dan luas luka.

Rasional : untuk mengetahui lokasi luka yang muncul pada klien

  1. Pantau jika terdapat tanda infeksi (rubor, dolor, kolor, dan perubahan fungsi).

Rasional : untu mengetahui lokasi insisi luka

  1. Pantau tanda vital klien

Rasional : mengetahui keadaan klien dan memudahkan tindakan selanjutnya

  1. Kolaborasi pemberian antibiotik.

Rasional : untuk menentukan terapi yang sesuai pada klien.

  1. Ganti balut dengan prinsip steril.

Rasional : mencegah terjadinya infeksi pada luka

3.Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan terhadap tindakan yang akan dilakukan

Tujuan : Ansietas berkurang dan dapat diatasi

Intervensi :

  1. Jelaskan prosedur, intervensi dan tindakan yang dilakukan pada pasien.

Rasional :membantu dalam memahami kebutuhan terhadap prosedur ini.

  1. Pertahankan komunikasi terbuka, diskusikan kemungkinan efek samping dan hasil, pertahankan sikap optimis.

Rasional : informasi yang tepat akan mengurangi cemas pada klien.

  1. Anjurkan pasien untuk mengungkapkan perasaannya

Rasional : klien dan keluarganya akan mersa tenang dan dapat mengurangi rasa cemas.

  1. Libatkan pasangan / keluarga untuk mendampingi pasien.

Rasional : klien akan merasa tenang.

  1. Kolaborasi dengan dokter pemberian sedatif bila tindakan lain tidak berhasil.

Rasional : sebagai langkah tindakan yang selanjutnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Mitaya.2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika

Mansjoer, Arif. 2001. KapitaSelekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.

Marilynn E. Doenges & Mary Frances Moorhouse, 2001, Rencana Perawatan Maternal/Bayi, edisi kedua. EGC. Jakarta.

Sarwono, 1997, Ilmu Kebidanan. Yayasan bina pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta

Bagus,Ida. Ilmu Kebidanan, Penyakit kandungan & Keluarga Berencana untuk pendidika kebidanan.EGC : Jakarta

Mochtar, Rustam.Sinopsis Ostetri.Jakarta. EGC

http://www.google.com

 

Read Full Post »

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pre-eklamsia dan eklamsia

A. Pengertian

Preeklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan protein uria tetapi tidak menjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah kehamilan berumur 28 minggu atau lebih  ( Rustam Muctar, 1998 ).

Tidak berbeda dengan definisi Rustam, Manuaba ( 1998) mendefinisikan bahwa preeklampsia (toksemia gravidarum) adalah tekanan darah tinggi yang disertai dengan proteinuria (protein dalam air kemih) atau edema (penimbunan cairan), yang terjadi pada kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu pertama setelah persalinan. Selain itu, Mansjoer ( 2000 ) mendefinisikan bahwa preeklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. (Mansjoer, 2000). Menurut kamus saku kedokteran Dorland, Preeklampsia adalah toksemia pada kehamilan lanjut yang ditandai oleh hipertensi, edema, dan proteinuria.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa preeklampsia  (  toksemia gravidarum ) adalah sekumpulan gejala yang timbul ada wanita hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema(penimbunan cairan dalam tubuh sehingga ada pembengkakan pada tungkai dan kaki) dan poteinuria yang muncul pada kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu pertama setelah persalinan.

 

Eklampsia adalah kelainan pada masa kehamilan, dalam persalinan, atau masa nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang (bukan timbul akibat kelainan saraf) dan / atau koma dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre-eklampsia.

PE-E hampir secara eksklusif merupakan penyakit pada kehamilan pertama (nullipara). Biasanya terdapat pada wanita masa subur dengan umur ekstrim, yaitu pada remaja belasan tahun atau pada wanita yangberumur lebih dari 35 tahun.

 

Eklamsia adalah suatu penyakit yang pada umumnya terjadi pada wanita hamil atau nifas dengan tanda-tanda pre eklamsia. (sarwono, 2005).Eklamsia adalah terjadinya kejang pada seorang wanita dengan pre eklamsia yang tidak dapt disebabkan oleh hal lain. (Cunningham, 2005). Eklamsia adalah pre eklamsia tang disertai kejang-kejang, kelainan akut pada ibu hamil. (Maimunah, 2005)

Kondisi gawat terjadi bila timbul kejang atau bahkan pingsan yang berarti sudah terjadi gangguan di otak. Pada tahap inibisa dikatakan penyakit berada pada tahap eklampsia. Pada kasus yang sudah lanjut, sang ibu pada awalnya mengalami kejang selama 30 detik, lalu meningkat selama 2 menit, sebelum akhirnya pingsan selama 10-30 menit.Kewaspadaan perlu ditingkatkan, karena bila penderita koma berkepanjangan bisa timbul komplikasi berat. Seperti gagaljantung, gagal ginjal, terganggunya fungsi paru-paru, dan tersendatnya metabolisme tubuh.

 

B.  Etiologi

Apa yang menjadi penyebab preeclampsia dan eklampsia sampai sekarang belum diketahui. Telah terdapat banyak teori yang mencoba menerangkan sebab-musabab penyakit tersebut, akan tetapi tidak ada yang dapat memberi jawaban yang memuaskan. Teori yang dapat diterima harus dapat menerangkan hal-hal berikut:

1.      Sebab bertambahnya frekuensi pada primigraviditas, kehamilan ganda, hidramnion, dan mola hidatidosa.

2.      Sebab bertambahnya frekuensi dengan makin tuanya kehamilan.

3.      Sebab dapat terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan kematian janin dalam uterus.

4.      Sebab jarangnya terjadi eklampsia pada kehamilan-kehamilan berikutnya.

5.      Sebab timbulnya hipertensi, edema, proteinuria, kejang, dan koma. Penyebab PIH tidak diketahui; namun demikian, penelitian terakhir menemukan suatu organisme yang disebut hydatoxi lualba.

Faktor Risiko :

  • Kehamilan pertama
  • Riwayat keluarga dengan pre-eklampsia atau eklampsia
  • Pre-eklampsia pada kehamilan sebelumnya
  • Ibu hamil dengan usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
  • Wanita dengan gangguan fungsi organ (diabetes, penyakit ginjal, migraine, dan                      tekanan darah tinggi)
  • Kehamilan kembar,

C.  Patofisiologi

Pada preeklampsia terdapat penurunan  aliran darah. Perubahan ini menyebabkan  prostaglandin plasenta menurun dan mengakibatkan iskemia uterus. Keadaan iskemia pada uterus , merangsang pelepasan bahan tropoblastik yaitu akibat hiperoksidase lemak dan pelepasan renin uterus. Bahan tropoblastik menyebabkan terjadinya endotheliosis menyebabkan pelepasan tromboplastin. Tromboplastin yang dilepaskan mengakibatkan pelepasan tomboksan dan aktivasi / agregasi trombosit deposisi fibrin. Pelepasan tromboksan akan menyebabkan terjadinya vasospasme sedangkan aktivasi/ agregasi trombosit deposisi fibrin akan menyebabkan koagulasi intravaskular yang mengakibatkan perfusi darah menurun dan konsumtif koagulapati. Konsumtif koagulapati mengakibatkan trombosit dan faktor pembekuan darah menurun dan menyebabkan gangguan faal hemostasis.  Renin uterus yang di keluarkan akan mengalir bersama darah sampai organ hati dan bersama- sama angiotensinogen menjadi angiotensi I dan selanjutnya menjadi angiotensin II. Angiotensin II bersama tromboksan akan menyebabkan terjadinya vasospasme. Vasospasme menyebabkan lumen arteriol menyempit. Lumen arteriol yang menyempit menyebabkan lumen hanya dapat dilewati oleh satu sel darah merah. Tekanan perifer akan meningkat agar oksigen mencukupi kebutuhab sehingga menyebabkan terjadinya hipertensi. Selain menyebabkan vasospasme, angiotensin II akan merangsang glandula suprarenal untuk mengeluarkan aldosteron. Vasospasme bersama dengan koagulasi intravaskular akan  menyebabkan gangguan perfusi darah dan gangguan multi organ.

Gangguan multiorgan terjadi pada organ- oragan tubuh diantaranya otak, darah, paru- paru, hati/ liver, renal dan plasenta. Pada otak akan dapat menyebabkan terjadinya edema serebri dan selanjutnya terjadi peningkatan tekanan intrakranial. Tekanan intrakranial yang meningkat menyebabkan terjadinya gangguan perfusi serebral , nyeri dan terjadinya kejang sehingga menimbulkan diagnosa keperawatan risiko cedera. Pada darah akan terjadi enditheliosis menyebabkan sel darah merah dan pembuluh darah pecah. Pecahnya pembuluh darah akan menyebabkan terjadinya pendarahan,sedangkan sel darah merah yang pecah akan menyebabkan terjadinya anemia hemolitik. Pada paru- paru, LADEP akan meningkat menyebabkan terjadinya kongesti vena pulmonal, perpindahan cairan sehingga akan mengakibatkan terjadinya oedema paru. Oedema paru akan menyebabkan terjadinya kerusakan pertukaran gas. Pada hati, vasokontriksi pembuluh darah menyebabkan akan menyebabkan gangguan kontraktilitas miokard sehingga menyebabkan payah jantung dan memunculkan diagnosa keperawatan penurunan curah jantung. Pada ginjal, akibat pengaruh aldosteron, terjadi peningkatan reabsorpsi natrium dan menyebabkan retensi cairan dan dapat menyebabkan terjadinya edema sehingga dapat memunculkan diagnosa keperawatan kelebihan volume cairan. Selin itu, vasospasme arteriol pada ginjal akan meyebabkan penurunan GFR dan permeabilitas terrhadap protein akan meningkat. Penurunan GFR tidak diimbangi dengan peningkatan reabsorpsi oleh tubulus sehingga menyebabkan diuresis menurun sehingga menyebabkan terjadinya oligouri dan anuri. Oligouri atau anuri akan memunculkan diagnosa keperawatan gangguan eliminasi urin. Permeabilitas terhadap protein yang meningkat akan menyebabkan banyak protein akan lolos dari filtrasi glomerulus dan menyenabkan proteinuria. Pada mata, akan terjadi spasmus arteriola selanjutnya menyebabkan oedem diskus optikus dan retina. Keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya diplopia dan memunculkan diagnosa keperawatan risiko cedera. Pada plasenta penurunan perfusi akan menyebabkan hipoksia/anoksia sebagai pemicu timbulnya gangguan pertumbuhan plasenta sehinga dapat berakibat terjadinya Intra Uterin Growth Retardation serta memunculkan diagnosa keperawatan risiko gawat janin.

Hipertensi akan merangsang medula oblongata dan sistem saraf parasimpatis akan meningkat. Peningkatan saraf simpatis mempengaruhi traktus gastrointestinal dan ekstrimitas. Pada traktus gastrointestinal dapat menyebabkan terjadinya hipoksia duodenal dan penumpukan ion H menyebabkan HCl meningkat sehingga dapat menyebabkan nyeri epigastrik. Selanjutnya akan terjadi akumulasi gas yang meningkat, merangsang mual dan timbulnya muntah sehingga muncul diagnosa keperawatan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Pada ektrimitas dapat terjadi metabolisme anaerob menyebabkan ATP diproduksi dalam jumlah yang sedikit yaitu 2 ATP dan pembentukan asam laktat. Terbentuknya asam laktat dan sedikitnya ATP yang diproduksi akan menimbulkan keadaan cepat lelah, lemah sehingga muncul diagnosa keperawatan intoleransi aktivitas. Keadaan hipertensi akan mengakibatkan seseorang kurang terpajan informasi dan memunculkan diagnosa keperawatan kurang pengetahuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D.    Manifestasi Klinis

1.   Nyeri kepala hebat pada bagian depan atau belakang kepala yang diikuti dengan peningkatan tekanan darah yang abnormal. Sakit kepala tersebut terus menerus dan tidak berkurang dengan pemberian aspirin atau obat sakit kepala lain

2.  Gangguan penglihatan a pasien akan melihat kilatan-kilatan cahaya,                                    pandangan kabur, dan terkadang bisa terjadi kebutaan sementara

3. Iritabel a ibu merasa gelisah dan tidak bisa bertoleransi dengan suara berisik atau gangguan lainnya

4. Nyeri perut a nyeri perut pada bagian ulu hati yang kadang disertai dengan muntah

5. Gangguan pernafasan sampai cyanosis

6. Terjadi gangguan kesadaran

 

E.     Klasifikasi

Dibagi menjadi 2 golongan, yaitu sebagai berikut :

a.        Preeklampsia Ringan, bila disertai keadaan sebagai berikut:

  • Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih yang diukur pada posisi berbaring terlentang; atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih; atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih .Cara pengukuran sekurang-kurangnya pada 2 kali pemeriksaan dengan jarak periksa 1 jam, sebaiknya 6 jam.
  • Edema umum, kaki, jari tangan, dan muka; atau kenaikan berat 1 kg atau lebih per minggu.
  • Proteinuria kwantatif 0,3 gr atau lebih per liter; kwalitatif 1 + atau 2 + pada urin kateter atau midstream.

b.       Preeklampsia Berat

  •  Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih.
  • Proteinuria 5 gr atau lebih per liter.
  • Oliguria, yaitu jumlah urin kurang dari 500 cc per 24 jam .
  • Adanya gangguan serebral, gangguan visus, dan rasa nyeri pada epigastrium.
  • Terdapat edema paru dan sianosis.

 

F.   Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan :

  • Gambaran klinik : pertambahan berat badan yang berlebihan, edema, hipertensi, dan timbul proteinuria
  • Gejala subyektif : sakit kepala didaerah fromtal, nyeri epigastrium; gangguan visus; penglihatan kabur, skotoma, diplopia; mual dan muntah.
  • Gangguan serebral lainnya: refleks meningkat, dan tidak tenang
  • Pemeriksaan: tekanan darah tinggi, refleks meningkat dan proteinuria pada pemeriksaan laboratorium

G. Pemeriksaan Penunjang

a.  Pemeriksaan Laboratorium

1. Pemeriksaan darah lengkap dengan hapusan darah

  • Penurunan hemoglobin ( nilai rujukan atau kadar normal hemoglobin untuk wanita hamil adalah 12-14 gr% )
  • Hematokrit meningkat ( nilai rujukan 37 – 43 vol% )
  • Trombosit menurun ( nilai rujukan 150 – 450 ribu/mm3 )

2.      Urinalisis

Ditemukan protein dalam urine.

3.      Pemeriksaan Fungsi hati

  • Bilirubin meningkat ( N= < 1 mg/dl )
  • LDH ( laktat dehidrogenase ) meningkat
  • Aspartat aminomtransferase ( AST ) > 60 ul.
  • Serum Glutamat pirufat transaminase ( SGPT ) meningkat ( N= 15-45 u/ml )
  • Serum glutamat oxaloacetic trasaminase ( SGOT ) meningkat ( N= <31 u/l )
  • Total protein serum menurun ( N= 6,7-8,7 g/dl )

4.      Tes kimia darah

Asam urat meningkat ( N= 2,4-2,7 mg/dl )

b.      Radiologi

a.  Ultrasonografi

Ditemukan retardasi pertumbuhan janin intra uterus. Pernafasan intrauterus lambat, aktivitas janin lambat, dan volume cairan ketuban sedikit.

b.   Kardiotografi

Diketahui denyut jantung janin bayi lemah.

H. Komplikasi

Tergantung pada derajat preeklampsi yang dialami. Namun yang termasuk komplikasi antara lain:

a.        Pada Ibu

  • Eklapmsia
  • Solusio plasenta
  • Pendarahan subkapsula hepar
  • Kelainan pembekuan darah ( DIC )
  • Sindrom HELPP ( hemolisis, elevated, liver,enzymes dan low platelet count )
  • Ablasio retina
  • Gagal jantung hingga syok dan kematian.

b.      Pada Janin

  • Terhambatnya pertumbuhan dalam uterus
  • Prematur
  • Asfiksia neonatorum
  • Kematian dalam uterus
  • Peningkatan angka kematian dan kesakitan perinatal

I. Penatalaksanaan

1. Penatalaksanaan Pre-eklamsia

a. Penatalaksanaan pre-eklampsia ringan

  1. Dapat dikatakan tidak mempunyai risiko bagi ibu maupun janin
  2. Tidak perlu segera diberikan obat antihipertensi atau obat lainnya, tidak perlu dirawat kecuali tekanan darah meningkat terus (batas aman 140-150/90-100 mmhg).
  3. Istirahat yang cukup (berbaring / tiduran minimal 4 jam pada siang hari dan minimal 8 jam pada malam hari)
  4. Pemberian luminal 1-2 x 30 mg/hari bila tidak bisa tidur
  5. Pemberian asam asetilsalisilat (aspirin) 1 x 80 mg/hari.
  6. Bila tekanan darah tidak turun, dianjurkan dirawat dan diberi obat antihipertensi : metildopa 3 x 125 mg/hari (max.1500 mg/hari), atau nifedipin 3-8 x 5-10 mg/hari, atau nifedipin retard 2-3 x 20 mg/hari, atau pindolol 1-3 x 5 mg/hari (max.30 mg/hari).
  7. Diet rendah garam dan diuretik tidak perlu
  8. Jika maturitas janin masih lama, lanjutkan kehamilan, periksa tiap 1 minggu
  9. Indikasi rawat : jika ada perburukan, tekanan darah tidak turun setelah 2 minggu rawat jalan, peningkatan berat badan melebihi 1 kg/minggu 2 kali berturut-turut, atau pasien menunjukkan tanda-tanda pre-eklampsia berat. Berikan juga obat antihipertensi.

10.  Jika dalam perawatan tidak ada perbaikan, tatalaksana sebagai pre-eklampsia berat. Jika perbaikan, lanjutkan rawat jalan

11.  Pengakhiran kehamilan : ditunggu sampai usia 40 minggu, kecuali ditemukan pertumbuhan janin terhambat, gawat janin, solusio plasenta, eklampsia, atau indikasi terminasi lainnya. Minimal usia 38 minggu, janin sudah dinyatakan matur.

12.  Persalinan pada pre-eklampsia ringan dapat dilakukan spontan, atau dengan bantuan ekstraksi untuk mempercepat kala ii.

b. Penatalaksanaan pre-eklampsia berat

Dapat ditangani secara aktif atau konservatif.  Aktif berarti : kehamilan diakhiri / diterminasi bersama dengan pengobatan medisinal. Konservatif berarti : kehamilan dipertahankan bersama dengan pengobatan medisinal. Prinsip : Tetap PEMANTAUAN JANIN dengan klinis, USG, kardiotokografi !!!

2.   Penatalan Eklamsia

Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau nifas, yang ditandai dengan timbulnya kejang dan / atau koma. Sebelumnya wanita hamil itu menunjukkan gejala-gejala pre-eklampsia (kejang-kejang dipastikan BUKAN timbul akibat kelainan neurologik lain). Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala pre-eklampsia disertai kejang dan atau koma.

Tujuan pengobatan : menghentikan / mencegah kejang, mempertahankan fungsi organ vital, koreksi hipoksia / asidosis, kendalikan tekanan darah sampai batas aman, pengakhiran kehamilan, serta mencegah / mengatasi penyulit, khususnya krisis hipertensi, sebagai penunjang untuk mencapai stabilisasi keadaan ibu seoptimal mungkin.

Sikap obstetrik : mengakhiri kehamilan dengan trauma seminimal mungkin untuk ibu. Pengobatan medisinal : sama seperti pada pre-eklampsia berat. Dosis MgSO4 dapat ditambah 2 g intravena bila timbul kejang lagi, diberikan sekurang-kurangnya 20 menit setelah pemberian terakhir. Dosis tambahan ini hanya diberikan satu kali saja. Jika masih kejang, diberikan amobarbital 3-5 mg/kgBB intravena perlahan-lahan. JANGAN LUPA : OKSIGEN DENGAN NASAL KANUL, 4-6 L / MENIT !! Perawatan pada serangan kejang : dirawat di kamar isolasi dengan penerangan cukup, masukkan sudip lidah ke dalam mulut penderita, daerah orofaring dihisap. Fiksasi badan pada tempat tidur secukupnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Asuhan Keperawatan

Pasien dengan Pre-eklamsia Dan Eklamsia

A. Pengkajian

Data yang dikaji pada ibu bersalin dengan pre eklampsia adalah :

a.       Data subyektif :

–          Umur biasanya sering terjadi pada primi gravida , < 20 tahun atau > 35 tahun

–          Riwayat kesehatan ibu sekarang : terjadi peningkatan tensi, oedema, pusing, nyeri epigastrium, mual muntah, penglihatan kabur

–          Riwayat kesehatan ibu sebelumnya : penyakit ginjal, anemia, vaskuler esensial, hipertensi kronik, DM

–          Riwayat kehamilan: riwayat kehamilan ganda, mola hidatidosa, hidramnion serta riwayat kehamilan dengan pre eklamsia atau eklamsia sebelumnya

–          Pola nutrisi : jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan pokok maupun selingan

–          Psikososial spiritual : Emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan kecemasan, oleh karenanya perlu kesiapan moril untuk menghadapi resikonya.

 

b.      Data Obyektif :

–          Inspeksi : edema yang tidak hilang dalam kurun waktu 24 jam

–          Palpasi : untuk mengetahui TFU, letak janin, lokasi edema

–          Auskultasi : mendengarkan DJJ untuk mengetahui adanya fetal distress

–          Perkusi : untuk mengetahui refleks patella sebagai syarat pemberian SM ( jika refleks+)

–          Pemeriksaan penunjang :

  • Tanda vital yang diukur dalam posisi terbaring atau tidur, diukur 2 kali dengan interval 6 jam
  • Laboratorium : protein uri dengan kateter atau midstream ( biasanya meningkat hingga 0,3 gr/lt atau +1 hingga +2 pada skala kualitatif ), kadar hematokrit menurun, BJ urine meningkat, serum kreatini meningkat, uric acid biasanya > 7 mg/100 ml
  • Berat badan : peningkatannya lebih dari 1 kg/minggu
  • Tingkat kesadaran ; penurunan GCS sebagai tanda adanya kelainan pada otak
  • USG ; untuk mengetahui keadaan janin
  • NST : untuk mengetahui kesejahteraan janin

B.   Diagnosa Keperawatan

  1. Gangguan perfusi jaringan otak b/d penurunan kardiak out put sekunder terhadap vasopasme pembuluh darah.
  2. Resiko terjadi gawat janin intra uteri (hipoksia) b/d penurunan suplay O2 dan nutrisi kejaringan plasenta sekunderterhadap penurunan cardiac out put.
  3. Kelebihan volum cairan b/d kerusakan fungsi glumerolus sekunder terhadap penurunan cardiac out put
  4. Gangguan pemenuhan ADL b/d immobilisasi; kelemahan
  5. Kurang pengetahuan mengenai penatalaksanaan terapi dan perawatan b/d misinterpretasi informasi
  6. Pola nafas tidak efektif b/d penurunann  ekspansi paru.

C.     Rencana Keperawatan

 

1.   Gangguan perfusi jaringan otak b/d penurunan kardiak out put sekunder terhadap vasopasme pembuluh darah:

Tujuan     : Perfusi jaringan otak adekuat danTercapai secara optimal.

Intervensi:

  1. Monitor perubahan tiba-tiba atau gangguan mental kontinu ( cemas  bingung, letargi, pingsan )
  2. Obsevasi adanya pucat, sianosis, belang, kulit dingin/ lembab, cacat kekuatan nadi perifer.
  3. Kaji tanda Homan ( nyeri pada betis dengan posisi dorsofleksi ) eritema, edema
  4. Dorong latihan kaki aktif / pasif
  5. Pantau pernafasan
  6. Kaji fungsi GI, catat anoreksia, penurunan bising usus, muntah/  mual, distaensi abdomen, kontipasi
  7. Pantau masukan dan perubahan keluaran

 

2.   Resiko terjadi gawat janin intra uteri (hipoksia) b/d penurunan suplay O2 dan nutrisi

kejaringan plasenta sekunderterhadap penurunan cardiac out put.

Tujuan: Gawat janin tidak terjadi, bayi Dapat dipertahankan sampai  Umur 37 minggu dan atau          BBL ≥ 2500 g.

Intervensi:

  1. Anjurkan penderita untuk tidur  miring ke kiri
  2. Anjurkan pasien untuk melakukan ANC secara teratur sesuai dengan   masa kehamilan:

–          1 x/bln pada trisemester I

–          2 x/bln pada trisemester II

–          1 x/minggu pada trisemester III

  1. Pantau DJJ, kontraksi uterus/his gerakan janin setiap hari
  2. Motivasi pasien untuk meningkatkan fase istirahat

3. Kelebihan volum cairan b/d kerusakan fungsi glumerolus sekunder terhadap penurunan cardiac out put.

Tujuan    : Kelebihan volume cairan teratasi.

Intervensi:

  1. Auskultasi bunyi nafas akan adanya krekels.
  2. Catat adanya DVJ, adanya edema dependen
  3. Ukur masukan atau keluaran, catat penurunan pengeluaran, sifat konsentrasi, hitung keseimbangan cairan.
  4. Pertahankan pemasukan total cairan 2000 cc/24 jam dalam toleransi kardiovaskuler.
  5. Berikan diet rendah natrium atau garam.

 

4. Gangguan pemenuhan ADL b/d immobilisasi; kelemahan

Tujuan     : ADL dan kebutuhan beraktifitas pasien terpenuhi secara adekuat.

Intervensi:

  1. Kaji toleransi pasien terhadap aktifitas menggunakn termometer berikut : nadi 20/m diatas frekuensi nadi istirahat, catat peningkatan tekanan darah, Dispenia, nyeri dada, kelelahan berat, kelemahan, berkeringat, pusing atau pingsang.
  2. Tingakat istirahat, batasi aktifitas pada dasar nyeri atau respon hemodinamik, berikan aktifitas senggang yang taidak berat.
  3. Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktifitas contao ; penurunan kelemahan dan kelelahan, tekanan darah stabil, peningkatan perhatian pada aktifitas dan perawatan diri.
  4. Dorong memjukan aktifitas atau toleransi perawatan diri.
  5. Anjurkan keluarga untuk membantu pemenuhan kebutuhan ADL pasienn.
  6. Anjurakan pasiien menghindari peningkatan tekanan abdomen, mengejan saat defekasi.
  7. Jelasakn pola peningkatan bertahap dari aktifitas, contoh : posisi duduk diatas tempat tidur bila tidak ada pusing dan nyeri, bangun dari tempat tidur, belajar berdiri dst.

5.   Kurang pengetahuan mengenai penatalaksanaan terapi dan perawatan b/d misinterpretasi informasi

Tujuan     : Kebutuhan pengetahuan terpenuhi secara adekuat.

Intervensi:

  1. Identifikasi dan ketahui persepsi pasien terhadap ancaman atau situasi. Dorong mengekspresikan dan jangan menolak perasaan marah, takut dll.
  2. Mempertahankan kepercayaan pasien ( tanpa adanya keyakinan yang salah )
  3. Terima tapi jangan beri penguatan terhadap penolakan
  4. Orientasikan klien atau keluarga terhadap prosedur rutin dan aktifitas, tingkatkan partisipasi bila mungkin.
  5. Jawab pertanyaan dengan nyata dan jujur, berikan informasi yang konsisten, ulangi bila perlu.
  6. Dorong kemandirian, perawatan diri, libatkan keluarga secara aktif dalam perawatan.

 

6.   Pola nafas tidak efektif b/d penurunann  ekspansi paru.

Tujuan     : Pola nafas yang efektif.

Intervensi:

  1. Pantau tingkat pernafasan dan suara nafas.
  2. Atur posisi fowler atau semi fowler.
  3. Sediakan perlengkapan penghisapan atau penambahan aliran udara.
  4. Berikan obat sesuai petunjuk.
  5. Sediakan oksigen tambahan.

 

Read Full Post »